Gempuran Merek China Belum Runtuhkan Dominasi Jepang, Ini Alasannya

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengunjung melihat kendaraan di pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE-BSD City, Tangerang, Rabu (17/7). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengunjung melihat kendaraan di pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 di ICE-BSD City, Tangerang, Rabu (17/7). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Peningkatan penjualan sejumlah merek otomotif asal China pada September 2026 mengindikasikan adanya pergeseran preferensi konsumen di pasar nasional. Kendati demikian, fenomena tersebut dinilai belum menjadi sinyal peralihan konsumen secara besar-besaran dari merek pabrikan Jepang.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa dinamika persaingan pasar otomotif saat ini membuat konsumen Indonesia menjadi jauh lebih selektif. Perubahan peta persaingan ini tecermin dari fluktuasi angka penyerapan unit di tingkat diler sepanjang bulan lalu.

"Perkembangan penjualan mobil pada September 2026 mulai menunjukkan adanya pergeseran preferensi konsumen Indonesia ke kendaraan asal Tiongkok, tetapi belum dapat disimpulkan sebagai peralihan besar-besaran dari merek asal Jepang," ujar Josua kepada kumparan Senin (19/10).

Data penjualan ritel bulanan mencatat pertumbuhan positif pada beberapa merek China seperti BYD yang naik 560 unit menjadi 7.421 unit. Tren kenaikan juga dicatatkan oleh Wuling yang naik 224 unit menjadi 2.074 unit, serta Jaecoo yang menguat 100 unit menjadi 3.400 unit.

Suasana booth Toyota pada pegelaran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025) Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Sebaliknya, sejumlah raksasa Jepang mengalami koreksi ritel bulanan yang cukup signifikan pada periode yang sama. Penjualan ritel Mitsubishi Motors susut 1.046 unit menjadi 4.515 unit, Suzuki turun 493 unit menjadi 5.625 unit, serta Toyota melandai 290 unit menjadi 21.648 unit.

"Meskipun demikian, tidak seluruh merek asal Tiongkok mencatat kenaikan, bahkan beberapa mengalami penurunan cukup tajam, sementara sejumlah merek asal Jepang tetap tumbuh. Artinya, perubahan tersebut lebih mencerminkan semakin selektifnya konsumen," katanya.

Josua menggarisbawahi bahwa pabrikan asal Jepang masih memegang kendali utama di industri kendaraan bermotor tanah air. Jaringan pelayanan yang tersebar luas hingga ke pelosok daerah menjadi benteng pertahanan utama produsen asal Negeri Sakura tersebut.

"Paling tidak, merek asal Jepang masih mendominasi lebih dari 70 persen penjualan kendaraan secara keseluruhan," tegas Josua.

Mobil listrik BYD Atto 1 ditampilkan di booth Mobil Listrik BYD saat Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

"Produsen asal Jepang masih memiliki keunggulan struktural berupa jaringan penjualan dan layanan purnajual yang luas, ketersediaan suku cadang, reputasi keandalan, serta nilai jual kembali yang relatif lebih teruji," pungkasnya.

Daya tahan harga jual kembali serta kemudahan perawatan berkala dinilai masih menjadi pertimbangan utama mayoritas konsumen mobil pertama (first-time buyer). Kondisi ini membuat pabrikan Jepang tetap tangguh dalam mengamankan pangsa pasar utamanya di Indonesia.