GIAMM: Pasar Mobil Mandek di 800 Ribu Unit, Pemasok Komponen Sulit Berkembang

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana booth Daihatsu pada pegelaran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana booth Daihatsu pada pegelaran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kinerja industri komponen otomotif dalam negeri masih menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebab utamanya adalah pasar mobil nasional yang belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki, mengatakan penjualan mobil domestik cenderung stagnan sejak 2022. Kondisi ini berdampak langsung terhadap permintaan komponen dari para pemasok.

“Kalau dilihat pasar domestik dari 2022 turun dan cenderung stagnan di 800 ribuan artinya 2 tahun industri komponen sangat tertekan kecuali yang bisa suplai ke roda dua,” ujar Rachmat kepada kumparan, Senin (22/6/2026).

Proses perakitan mobil di pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). Foto: Hyundai

Menurutnya, tekanan tersebut tidak dirasakan merata oleh seluruh pelaku industri. Perusahaan yang memiliki jaringan global masih bisa bertahan dengan mengandalkan cara lain.

Sebagai catatan, berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil secara wholesales pada tahun 2022 tembus sampai 1.048.040 unit.

Selanjutnya di taun 2023 turun 4 persen menjadi 1.005.802 unit. Memasuki tahun 2024 pasar mulai mengalami tekanan, total penjualan turun menjadi 865.723 unit.

Tahun 2025 kinerja penjualan domestik kembali lesu. Penjualan ditutup dengan total wholesales 803.687 unit

“Ada beberapa anggota GIAMM yang punya jaringan global untuk tetap bisa survive dengan upaya ekspor, cuma yang supplier lokal kan agak sulit,” lanjutnya.

Ilustrasi karyawan Toyota sedang mengecek komponen. Foto: dok. Toyota Indonesia

Sementara itu, pemasok lokal yang bergantung pada pasar domestik menghadapi tantangan lebih besar. Terbatasnya permintaan membuat ruang ekspansi menjadi semakin sempit.

Di tengah kondisi tersebut, isu relokasi pabrik komponen ke luar negeri turut menambah kekhawatiran. Ketika benar terjadi, dampaknya dinilai akan cukup besar terhadap tenaga kerja.

Suasana pabrik VinFast di Vietnam. Foto: Dok. VinFast

“Kalau jadi relokasi ke Vietnam mestinya karyawan yang ada PHK ya, memang kalau pabrik wiring dan harness kan padat karya, kemungkinan jumlah karyawan banyak,” kata dia.

Rachmat menilai, industri komponen otomotif membutuhkan dorongan agar bisa kembali berkembang. Tanpa pertumbuhan pasar yang kuat, tekanan terhadap supplier diperkirakan masih akan berlanjut.

Ia bilang, kondisi ini menjadi tantangan bagi industri otomotif nasional. Upaya menjaga daya saing dinilai penting agar pelaku usaha tetap mampu bertahan di tengah persaingan global.