Honda Indonesia: Mobil Hybrid Paling Praktis Sekarang

Menurut Business Innovation and Sales & Marketing PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy, konsumen mobil listrik di Indonesia saat ini baru sebatas mengikuti tren atau Fear of Missing Out alias FOMO.
"Menurut survei kami di internal, alasan utamanya adalah soal FOMO, kemudian kami melihat itu karena (menghindari aturan) ganjil-genap," buka Billy ditemui di Cikini, Jakarta Pusat.
Dirangkum dalam empat poin, Billy bilang faktor soal sensasi berkendara dan biaya kepemilikan menempati posisi ketiga dan keempat sebagai alasan untuk membeli mobil listrik murni atau BEV.
"Ketiga soal driving experience beda, dia (mobil listrik) lebih powerfull. Sama biaya, kesempatan harga jual mobil listrik disubsidi pemerintah," imbuhnya.
Selain itu, pihaknya juga menemukan beberapa alasan bagi masyarakat Tanah Air yang hingga saat ini masih belum mempertimbangkan untuk memboyong mobil listrik.
"Mereka yang tidak mau beli keluhannya di infrastruktur, charger-nya susah sementara yang jual tidak tahu. Sama masih menunggu teknologi (mobil listrik) yang lebih baru lagi," papar Billy.
Berbeda dengan merek mobil lainnya, HPM saat ini tengah berfokus untuk memperkenalkan teknologi hybrid dengan meluncurkan dua produk hibrida baru yakni CR-V RS e:HEV dan Accord RS e:HEV.
Tantangan Honda Memperkenalkan Mobil Rendah Emisi
Lebih lanjut, Billy mengungkapkan, tantangan untuk memperkenalkan teknologi elektrifikasi kepada masyarakat saat ini tidak sebatas untuk mobil listrik saja. Bahkan juga untuk mobil hybrid.
"Di luar Jakarta masih perlu kita edukasi, soalnya hybrid tuh memang paling praktis sekarang. Masih perlu edukasi lebih lanjut ke konsumen di sana, kan di sana teknologi baru belum terlalu tersosialisasi. Kenapa sih baterainya gede, kenapa sih takut, masih ada takutnya. Makanya fokusnya masih di Jakarta, di luar Jakarta sedikit," tukasnya.
Guna meningkatkan kesadaran akan mobil rendah emisi dan dapat terserap dengan baik di tengah masyarakat, Honda kini tengah melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah sosialisasi masif di media sosial.
"Kita berikan banyak training, kasih link media atau sosial media. Kita kasih tahu keunggulan hybrid bagaimana. Kita kasih sosialisasi keunggulan hybrid bagaimana ke daerah-daerah," terangnya.
Paling penting, tidak hanya pemaparan informasi, melainkan sebisa mungkin untuk merasakan langsung manfaat dan keuntungan menggunakan mobil hybrid atau elektrifikasi lainnya.
"Sosialisasi saja rasanya tidak cukup, harus kita kasih test drive, kasih pinjam dan rasakan langsung. Karena kalau di daerah-daerah kan jalanannya agak berbeda dengan di kota-kota," kata dia.
Penjualan Mobil Listrik di Indonesia Meningkat
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) merilis data penjualan mobil listrik (BEV) pada Januari 2024. Hasilnya terjadi kenaikan bila dibandingkan Januari 2023, pada bulan pembuka tahun ini, asosiasi merekam penjualan secara wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) sebanyak 2.355 unit.
Periode yang sama tahun lalu, Gaikindo merekam hanya 298 unit yang terdistribusi. Artinya terdapat pertumbuhan yang luar biasa positif sebesar 690 persen.
Secara komposisi juga sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Bila Januari 2023 pangsa pasarnya hanya 0,3 persen dari total wholesales-nya, pada Januari 2024 menjadi 3,3 persen.
Namun bila dibandingkan secara month to month, penjualan BEV Januari 2024 lebih sedikit 27 persen dibanding Desember 2023 yang sempat menjual sebanyak 3.190 unit.
***
