Hyundai Tahan Harga Mobil di Tengah Tekanan Biaya, Pilih Efisiensi Internal

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fasilitas produksi PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di Cikarang, Jawa Barat. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fasilitas produksi PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di Cikarang, Jawa Barat. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) memastikan tidak akan menaikkan harga jual kendaraan, meski menghadapi tekanan kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasar otomotif nasional di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Chief Operating Officer HMID, Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, hingga saat ini perusahaan masih mampu menahan harga, meskipun sejumlah komponen biaya mengalami peningkatan. Faktor seperti kenaikan harga plastik dan nilai tukar rupiah di atas Rp 17.000 menjadi perhatian utama.

So far walaupun di luar dari harga plastik terus kemudian exchange rate kita juga perhatikan di atas Rp 17.000, ada beberapa faktor yang juga naik tapi Hyundai bisa mempertahankan sampai dengan saat ini dan kami tidak ada niat untuk menaikkan harga," ujarnya usai acara Hyundai di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

"Dan kami akan tetap memberikan yang terbaik dan tidak ada pressure, istilahnya melakukan cost reduction dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Menurut Fransi, strategi yang dilakukan adalah menyerap kenaikan biaya melalui efisiensi di internal perusahaan. Perbaikan dilakukan di lini manufaktur maupun distribusi agar tambahan biaya tidak dibebankan ke konsumen.

Logo Hyundai pada Ioniq 5 Foto: dok. Muhammad Haldin Fadhila/kumparan

“Itu mungkin bisa di-absorb dengan beberapa improvement yang dilakukan di dalam manufacture process dan juga di dalam distributor process dan tidak akan membebankan diler juga,” jelasnya.

Ia menegaskan, Hyundai tidak akan mengambil langkah efisiensi agresif yang berpotensi menurunkan kualitas produk atau layanan. Fokus utama perusahaan tetap menjaga standar kualitas sekaligus mempertahankan daya saing di pasar.

Selain itu, kebijakan menahan harga juga dinilai penting untuk menjaga daya beli konsumen dan kestabilan industri otomotif secara keseluruhan. Hyundai berharap pasar bisa kembali ke level penjualan seperti tahun sebelumnya.

Proses perakitan mobil di pabrik Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI). Foto: Hyundai

"Jadi biar otomotif industri kita tetap stabil. Kalau kita tahun lalu bisa di angka 750.000-850.000 (unit), mudah-mudahan bisa mencapai angka itu kembali," katanya.

Di sisi lain, tekanan terhadap industri otomotif juga datang dari lonjakan harga bahan baku plastik secara global. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku petrokimia akibat konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Fasilitas produksi PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di Cikarang, Jawa Barat. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Di Indonesia, harga plastik dilaporkan meningkat signifikan pada April 2026, dengan kenaikan berkisar 30-70 persen bahkan hingga 100 persen untuk beberapa jenis. Sebagai gambaran, harga plastik kresek naik dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu per bungkus, sementara jenis lain meningkat dari Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu per bungkus.

Pemerintah pusat pun tengah menyiapkan langkah strategis untuk merespons lonjakan harga bahan baku tersebut. Upaya ini diharapkan dapat meredam tekanan biaya di sektor industri, termasuk otomotif, agar tetap kompetitif di tengah dinamika global.