Insentif EV Dominan ke Baterai Nikel, Wuling: Bisa Kita Pertimbangkan
·waktu baca 2 menit

Direktur Pemasaran Wuling Motors, Ricky Christian menanggapi kabar pemberian insentif mobil listrik yang melihat jenis baterai yang digunakan.
Menurutnya, pihak Wuling Motors tidak menutup kemungkinan jika harus mengikuti regulasi yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
“Saat ini memang Wuling fokusnya hanya di LFP (Lithium Iron Phosphate), tapi apabila regulasinya untuk NMC (Nickel Manganese Cobalt), mungkin bisa kita pelajari dan pertimbangkan,” ucap Ricky di Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Diketahui, Wuling menggunakan baterai LFP di seluruh produk elektrifikasinya, baik versi battery electric vehicle (BEV) maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Ricky menambahkan, saat ini Wuling telah melakukan produksi baterai LFP secara mandiri untuk kebutuhan pasokan mobil elektrifikasi, sesuai peta jalan Kementerian Perindustrian.
“Untuk TKDN seperti yang sudah diberikan Kementerian Perindustrian, kita melihat tahapan roadmap-nya juga sangat baik. Kita mencoba mengikuti guideline tersebut,” katanya.
“Misalnya perakitan baterai, itu kita juga sudah mulai sejak tahun lalu,” pungkas Ricky
Beda LFP dan NMC
Bicara soal dua jenis yang berbeda, baterai LFP dibuat dengan basis material besi (ferro), sementara NMC menggabungkan tiga jenis material, meliputi nickel, cobalt, dan manganese.
Pendiri EV Safe sekaligus dosen di National Battery Research Institute, Mahaendra Gofar menyebut bahwa biaya produksi LFP memang lebih terjangkau dari NMC.
“LFP itu bahan dasarnya besi saja, namanya ferro dan tidak ada campuran lain seperti NMC yang ada nikel, mangan, kobalt. Secara produksi itu (LFP) 30-40 persen lebih murah,” jelas Gofar kepada kumparan, Kamis (7/5/2026).
Kemudian soal penyimpanan energi. Baterai NMC punya keunggulan soal kepadatan energi yang lebih tinggi di ukuran dan kapasitas baterai serupa dengan LFP.
“Namun pada perkembangannya, LFP lebih umum dijumpai karena dari skala produksi saat ini lebih banyak berkat produsen asal China yang masif,” tambahnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjabarkan terkait skema insentif untuk mobil listrik. Besaran subsidi yang diberikan akan bergantung pada jenis baterai yang digunakan.
”Jadi yang baterainya berdasarkan nikel sama yang non-nikel akan beda skemanya. Tapi yang itu nanti Menteri Perindustrian yang akan menjelaskan,” ucap Purbaya di Jakarta, Selasa (5/5/2026) lalu.
