Jalan Tiba-tiba Macet Padahal Nggak Ada Apa-apa, Ini Penyebab dan Solusinya
·waktu baca 3 menit

Pernah terjebak macet tanpa tahu penyebabnya? Fenomena ini dikenal sebagai phantom traffic alias kemacetan hantu. Sejumlah fitur canggih pada mobil modern ternyata bisa menjadi solusi untuk mengurangi masalah tersebut.
Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan fitur-fitur terkini, seperti, Vehicle to Vehicle (V2V), Vehicle to Everything (V2X), dan Adaptive Cruise Control (ACC) dapat membereskan phantom traffic.
“V2V memungkinkan mobil saling bertukar data real-time tentang kecepatan dan posisi. V2X memungkinkan mobil terhubung dengan kendaraan lain dan infrastruktur jalan. ACC otomatis menyesuaikan kecepatan dan jarak kendaraan,” buka Yannes kepada kumparan belum lama ini.
Menurutnya, pertukaran data real-time antar mobil dalam fitur V2V bisa mencegah terbentuknya gelombang perlambatan yang menyebabkan macet hantu. Data ini lalu terintegrasi dengan kecerdasan buatan (AI) yang akan menurunkan phantom traffic.
“Mengurangi kemacetan hantu melalui pengoptimalan alur kendaraan dalam eksperimen skala besar. Pada gilirannya meningkatkan efisiensi bahan bakar, mengurangi emisi, dan meningkatkan keselamatan secara keseluruhan. Meminimalkan kesalahan manusia sebagai pemicu utama,” tambahnya.
Fitur V2X juga dinilai penting karena mobil yang saling terkoneksi dengan infrastruktur jalan dapat memprediksi kemacetan. V2X akan menyesuaikan perilaku pengemudi secara proaktif via AI untuk menganalisis pola lalu lintas, lalu mengoptimalkan akselerasi serta deselerasi.
Sedangkan fitur ACC mampu merespons perubahan lalu lintas, tanpa tindakan berlebihan dari pengemudi. Kemudian, diikuti sistem kendaraan otonom atau semi otonom yang dilengkapi AI guna menyesuaikan kecepatan serta menjaga jarak secara otomatis.
“ACC sebentar lagi dikembangkan menjadi Cooperative Adaptive Cruise Control (CACC). Menambahkan kemampuan komunikasi antar-kendaraan untuk berkoordinasi secara kolektif. Mencegah gelombang perlambatan berantai melalui pertukaran data tentang kondisi lalu lintas di depan,” sambungnya.
Perlu diketahui, saat ini fitur V2V, V2X, dan ACC masih belum optimal untuk meredam phantom traffic. Yannes bercerita, ketiga fitur ini hanya efektif bagi kendaraan tersebut secara individual, tapi tidak berdampak untuk kendaraan di sekitarnya.
“Nah, ini permasalahannya yang terjadi. Kondisi lalu lintas nyampur, mayoritas kendaraan masih sistem konvensional, ACC dapat memperburuk kemacetan. V2V dan V2X tentunya baru bisa jalan kalau mayoritas kendaraan di jalan sudah memakai teknologi ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, fitur ACC berpotensi memperburuk kemacetan karena respons sistem yang terlalu sensitif terhadap pengereman. Hal ini membuat siklus berulang stop-and-go yang timbul dari interaksi berantai kendaraan berujung pada kemacetan.
“ACC mendeteksi dan merespons dengan pengereman yang lebih halus, tetapi lebih lama daripada reaksi manusia. Alih-alih mengurangi stres, pengemudi akan melihat mobilnya terus stop-and-go secara otomatis mengikuti gelombang dari lalu lintas campuran,” terangnya.
Menurut Global Traffic Scorecard 2024 yang dipublikasikan oleh INRIX, Jakarta menempati posisi ke-7 sebagai kota paling macet di dunia. Rata-rata pengemudi menghabiskan waktu macet selama 89 jam, naik 37 persen dibandingkan tahun 2023 dengan rata-rata waktu 65 jam.
Di Indonesia sendiri, arus lalu lintasnya terbilang padat, apalagi terkadang banyak pejalan kaki atau pengendara motor yang tiba-tiba menyeberang jalan. Fitur ACC akan lebih sering ngerem mendadak untuk menghindari kecelakaan.
“Jadi sarannya, dalam kondisi terburuk seperti ini, matikan sementara fitur ACC dan ambil alih kendali secara manual. Membaca situasi dan bereaksi dengan cara yang lebih alami terhadap kelancaran arus lalu lintas secara keseluruhan,” pungkasnya.
