Jangan Norak, Jalan Umum Bukan Tempat Buat Cornering

29 September 2020 18:39 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Viral sepeda motor cornering di jalan raya sebabkan kecelakaan. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Viral sepeda motor cornering di jalan raya sebabkan kecelakaan. Foto: Istimewa
ADVERTISEMENT
Viral pengendara sepeda motor ugal-ugalan di jalan umum, sehingga menabrak pengendara lain dengan kecepatan cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
Dalam video yang beredar di media sosial itu, terlihat pengendara Honda BeAT hitam memacu kendaraan cukup kencang saat melahap tikungan. Tampaknya ia juga tak mengurangi kecepatan, dan berusaha untuk melakukan cornering selayaknya di lintasan balap sirkuit.
Karena tak bisa menguasai kendaraan, alhasil pengendara mengalami oversteer dan sepeda motor terjatuh hingga menabrak pengendara dari arah berlawanan.
Merespons kejadian ini, Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana mengatakan pengendara yang ugal-ugalan di jalan raya adalah orang dengan empati rendah.
Pengendara sepeda motor berkendara melawan arus karena menghindari razia polisi di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang di Jakarta, Rabu (11/3). Foto: ANATRA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
"Ada 3 hal yang harus diperhatikan buat pengendara. Pertama bijaklah saat berkendara, kemudian harus sadar jalan raya ini milik bersama jadi harus paham digunakan untuk kepentingan umum. Dan yang terakhir adalah wajib sadar kecelakaan lalu lintas di jalan raya sangat tinggi," kata Sony saat dihubungi kumparan, Selasa (29/9).
ADVERTISEMENT
Sony melanjutkan, karena jalan raya adalah ruang publik sudah seharusnya semua pengendara saling menghargai dan tidak egois dalam berkendara.

Peran orang tua penting

Kecelakaan lalu lintas Yamaha NMax dan Honda Scoopy. Foto: Iqbal Pramudya/Youtube
Dari kacamata Sony, kasus kecelakaan yang disebabkan karena show off atau pamer skill umumnya dilakukan oleh generasi milenial. Di sini, peran orang tua penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
"Di sini kurangnya pendidikan dari orang tua apalagi zamannya sekarang WFH seharusnya kontrol terhadap anak-anaknya lebih mudah," kata Sony.

Pemerintah seolah 'tutup mata'

Sirkuit Reka Vida non permanen Foto: Reka Vida
Pengendara yang ugal-ugalan disebutkan Sony sudah masuk sebagai kategori pengendara yang agresif. Mereka tak peduli dengan keselamatan orang lain.
Kasus ini seharusnya juga jadi perhatian besar pemerintah khususnya pemerintah daerah. Saran dia, pemerintah bisa memfasilitasi dengan membuatkan sirkuit.
ADVERTISEMENT
"Pebalap liar ini mereka coba memberikan sensasi tantangan dengan tidak hanya ngebut tapi ada obstacle bahaya yang ada di jalan raya (pengendara lain). Mereka merasa ada sensasi berbeda, ini seharusnya ditertibkan salah satunya menyediakan fasilitas yang benar-benar resmi dan memadai," jelas dia.
***
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)