Jarang yang Tahu, Mengapa Mesin Bus Tak Dimatikan Saat Isi Solar?

kumparanOTOverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Transjakarta melakukan pengecekan bus Zhongtong di Depo PPD F Klender, Jakarta Timur, Rabu (16/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Transjakarta melakukan pengecekan bus Zhongtong di Depo PPD F Klender, Jakarta Timur, Rabu (16/10/2019). Foto: ANTARA FOTO/Reno Esnir

Ada hal yang tak biasa saat kita menaiki bus. Utamanya ketika bus isi solar di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), mesin bus tak dimatikan selayaknya mobil penumpang biasa.

Mengapa ini terjadi? Apa karena pengemudinya lupa mematikan mesin atau ada hal teknis lainnya sehingga mesin harus dibiarkan hidup?

Calon penumpang bersiap menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi di Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Minggu (29/3/2020) Foto: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Senior Executive Officer After Sales PT Hino Motor Sales Indonesia (HMSI) Irwan Supriyono menjelaskan, salah satunya supaya menjaga kerja AC dan kompresornya tetap hidup sehingga kabin tidak pengap dan panas.

"Biasanya sopir tidak mematikan mesin lebih pada untuk kenyamanan penumpangnya. Kalau dimatikan butuh waktu lama buat AC menstabilkan temperaturnya," jelas Irwan, saat dihubungi kumparan, Selasa (29/9).

Selain itu, Irwan menjelaskan perilaku tersebut juga upaya menjaga performa dan mesin berumur panjang. Ini karena umumnya mesin Diesel turbo beda dengan bensin mobil yang langsung boleh dihidup atau matikan.

Ilustrasi mudik naik bus Foto: Shutter Stock

Sebab mematikan atau menghidupkan mesin bus, sederhananya butuh prosedur khusus agar komponen turbonya terjaga.

Jadi setiap sebelum dimatikan, mesin harus dalam kondisi idling sebagai pendinginan. Pun ketika sudah dihidupkan, perlu waktu beberapa menit sebelum bus jalan lagi, karena mesinnya butuh panas tinggi supaya bisa bekerja maksimal.

"Kalau habis narik dengan putaran mesin tinggi dan langsung masuk SPBU memang enggak boleh langsung dimatikan, bisa saja turbonya kena, karena aliran oli yang turbo langsung stop, padahal turbo masih berputar dengan putaran tinggi," katanya.

Sejumlah bus terparkir di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Senin (30/3/2020). Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

Maka dari itu kebanyakan pengemudi menghindari hal ini karena bisa memakan waktu yang lama di SPBU.

Supaya performa pengereman bus terjaga

Alasan lain adalah supaya menjaga performa pengereman. Sebab kerjanya berupa sistem rem angin, yang membutuhkan kompresor pada mesin. Sementara rem angin ini membutuhkan udara bertekanan tinggi yang disuplai secara teratur oleh kompresor, yang digerakkan oleh mesin.

"Selama tekanan angin masih normal mesin bisa langsung dimatikan," pungkas Irwan.

collection embed figure

***

Saksikan video menarik di bawah ini.

embed from external kumparan