Kabar Terbaru Truk Listrik Fuso e-Canter di Indonesia

Kehadiran truk listrik di Indonesia belum banyak menarik minat pelaku usaha. Salah satu indikatornya terlihat dari penjualan Mitsubishi Fuso e-Canter yang baru mencapai tiga unit sejak diperkenalkan oleh PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku distributor pada 2024.
Sales and Marketing Director PT KTB, Aji Jaya, mengatakan bahwa pasar kendaraan niaga listrik masih dalam tahap perkembangan. Sejak mulai memasarkan e-Canter dua tahun lalu sebagai pionir, masih banyak hal yang perlu dipersiapkan, terutama terkait kesiapan konsumen dalam menggunakan kendaraan berbasis listrik.
"Pasti spesifikasinya masih terbatas pada jarak tempuh, kemudian fasilitas charger, benefit apa yang bisa mereka dapatkan saat menggunakan truk EV. Itu masih harus di-improve oleh kami dan pemerintah, bagaimana mengundang konsumen mau menggunakan kendaraan listrik untuk operasional mereka," kata Aji saat ditemui di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).
Saat ini, KTB membidik perusahaan berskala global yang beroperasi di Indonesia dan memiliki konsep menjaga emisi sebagai pasar utama e-Canter. Segmen itu dipilih karena dinilai paling dekat dengan kebutuhan kendaraan operasional rendah emisi.
Aji mengatakan, sejumlah perusahaan global telah masuk dalam daftar prospek KTB untuk penggunaan truk listrik. Namun, dari daftar tersebut, baru tiga unit yang terealisasi. Menurutnya, KTB masih perlu berupaya meyakinkan konsumen agar bersedia menggunakan truk listrik sebagai kendaraan operasional.
“Ke depannya pemerintah yang saya dengar masih konsisten untuk mendorong kendaraan ini semua berbasis listrik. Itu tentunya masih berproses dan masih melakukan beberapa penyesuaian antara kami sebagai penyedia produk dengan para pengguna di lapangan," lanjutnya.
Pandangan konsumen
Sementara itu, Chief Innovation Officer PT Trimitra Trans Persada Tbk (B-LOG), Gerry Ardian, menuturkan bahwa dari sisi pengguna perusahaannya masih sudah mengkaji beberapa produsen truk listrik, termasuk menguji merek Fuso di lokasi operasional mereka.
Ia tidak menampik jarak tempuh dan waktu pengecasan menjadi tantangan terbesar dari penggunaan truk setrum. Hal ini menjadi pertimbangan bagi B-LOG yang memiliki kebutuhan operasional pengiriman hingga 100 kendaraan dalam satu misi dan beroperasi selama 24 jam.
"Buat mengatur ngecas 100 truk saja itu jadi tantangan sendiri, butuh berapa charging station yang kami siapkan. Kami juga berharap produsen terus berkembang. Makin ke sini kami lihat dari ATPM menyediakan kendaraan yang kilometernya panjang, charging time juga makin pendek," kata Gerry.
B-LOG juga masih menunggu dukungan regulasi pemerintah untuk sektor logistik. Gerry menyebut perusahaannya siap beralih ke truk listrik bila seluruh ekosistem pendukung sudah siap
Dari sisi biaya, ia menyebut investasi awal truk listrik masih cukup tinggi bagi pelaku usaha logistik. Gerry memperkirakan biaya operasional harian truk listrik nantinya lebih rendah dibanding truk konvensional.
“Kalau untuk mengisi daya saja butuh waktu lama, akhirnya truknya tidak jalan-jalan karena habis untuk ngecas. Hal itu yang membuat kami masih mempertimbangkan peralihan ke truk listrik, sampai sekarang kami belum bisa melakukannya,” tandasnya.
