Kap Mobil Kini Didesain Melandai Tak Lagi Mengotak-Datar, Apa Alasannya?

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Honda Brio di GIIAS 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Honda Brio di GIIAS 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Coba perhatikan bentuk bagian depan mobil yang beredar saat ini. Pada banyak model, kap mobil atau bonnet tidak lagi dibuat mengotak dengan permukaan yang relatif mendatar. Garis dari ujung depan mobil menuju kaca depan justru dibuat lebih membulat dan landai.

Perubahan tersebut bukan sekadar permainan desain. Ada kebutuhan aerodinamika, keselamatan pejalan kaki, visibilitas pengemudi, hingga penempatan komponen yang ikut menentukan bentuk bonnet.

Pakar Desain Produk dan Pengamat Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan desain bagian depan kendaraan merupakan hasil kompromi dari sejumlah kebutuhan teknis.

"Desain bonnet atau kap mesin yang semakin rendah dan melandai merupakan kompromi antara aerodinamika, keselamatan pejalan kaki, visibilitas, dan kebutuhan ruang komponen," ujar Yannes saat dihubungi kumparan, Rabu (16/9/2026).

Salah satu pertimbangannya adalah aerodinamika. Bentuk bagian depan kendaraan berpengaruh terhadap bagaimana udara mengalir dari hidung mobil menuju kaca depan dan bagian bodi lainnya.

Media first drive mobil listrik BAIC T1 Jakarta-Bandung, (18-19/8/2026). Foto: Sena Pratama/kumparan

"Dari sisi aerodinamika, hidung yang lebih landai membantu aliran udara bergerak lebih halus menuju kaca depan sehingga hambatan udara dapat ditekan," lanjut pengamat otomotif jebolan ITB tersebut.

Hambatan udara yang lebih rendah dapat membantu efisiensi kendaraan, terutama ketika melaju pada kecepatan yang lebih tinggi. Karena itu, desain bagian depan tidak hanya dibuat untuk menghasilkan tampilan yang lebih modern, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana bodi kendaraan berhadapan dengan aliran udara.

Di sisi lain, bentuk bonnet juga berkaitan dengan keselamatan ketika kendaraan mengalami benturan dengan pejalan kaki. Kap mesin tidak hanya berfungsi sebagai penutup ruang mesin, tetapi juga menjadi salah satu bagian yang diperhitungkan dalam rancangan keselamatan kendaraan.

"Dari sisi keselamatan, bagian depan yang lebih rendah dan membulat juga membantu mengurangi tingkat cedera ketika terjadi benturan dengan pejalan kaki, karena kap dan struktur di bawahnya dirancang mempunyai ruang deformasi tertentu," terang Yannes.

Deretan mobil Mercedes-Benz yang menggunakan platform NGCC. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Ruang tersebut menjadi penting karena permukaan kap tidak dirancang untuk langsung bertemu dengan komponen keras di bawahnya ketika terjadi benturan. Struktur bodi dan komponen di balik kap harus dikemas sedemikian rupa agar tersedia ruang untuk menyerap energi benturan.

Desain bagian depan yang lebih rendah juga dapat memberikan keuntungan bagi visibilitas pengemudi. Jarak pandang terhadap area tepat di depan kendaraan bisa menjadi lebih baik, terutama ketika mobil digunakan untuk bermanuver di ruang yang sempit.

"Kap yang rendah sekaligus dapat memperkecil area yang tidak terlihat (blind spot) tepat di depan kendaraan, terutama pada SUV," tambahnya.

Meski begitu, pabrikan tidak bisa begitu saja membuat kap mesin serendah mungkin. Di balik bonnet terdapat berbagai komponen yang membutuhkan ruang, sementara bagian bawah kendaraan juga harus memenuhi kebutuhan struktur, suspensi dan ground clearance.

"Tetapi desainnya tidak bisa terus dibuat rendah, karena masih ada kebutuhan ground clearance dan ruang komponen," jelas Yannes mengenai batasan teknis ruang mesin.

Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid versi trondol. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Keterbatasan tersebut membuat rancangan kendaraan modern menjadi semacam kompromi antara bentuk bodi dan kebutuhan teknis. Kap yang lebih rendah dapat membantu aerodinamika dan visibilitas, tetapi tetap harus menyediakan ruang yang cukup untuk komponen serta memenuhi persyaratan keselamatan.

Untuk mengatasi keterbatasan ruang deformasi tanpa harus menaikkan kembali posisi kap, sejumlah kendaraan modern juga menggunakan teknologi keselamatan aktif.

"Itu sebabnya beberapa kendaraan menggunakan teknologi seperti active bonnet, yang dapat sedikit terangkat ketika sistem mendeteksi benturan dengan pejalan kaki untuk menyediakan ruang deformasi tambahan," pungkas Yannes.

Teknologi tersebut memungkinkan bagian kap berubah posisi ketika sistem mendeteksi potensi benturan. Dengan begitu, desain bagian depan kendaraan bisa tetap dibuat rendah dan landai tanpa mengabaikan kebutuhan ruang deformasi untuk keselamatan pejalan kaki.

Meski begitu, tidak semua mobil mengikuti kecenderungan tersebut. SUV yang dirancang untuk kebutuhan off-road seperti Land Cruiser atau G-Class tetap mempertahankan bonnet yang tinggi dan relatif datar karena bentuk bodinya harus mengakomodasi karakter kendaraan, posisi berkendara, ground clearance, hingga kebutuhan komponen di bagian depan.