Kasus Kecelakaan Moge Kembali Terjadi, Pakar Tekankan Soal Kompetensi
·waktu baca 2 menit

Dua insiden kecelakaan yang melibatkan motor gede (moge) terjadi dalam waktu relatif berdekatan. Pertama bocah berusia 10 tahun (J) yang tewas tertabrak di Sulawesi Selatan pada Kamis (30/4) dan lainnya di Ciledug pada Minggu (3/5).
Hal tersebut disoroti oleh Ketua Bidang Road Safety & Motorsport Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Victor Assani yang mengatakan kecelakaan yang melibatkan atau terjadi pada moge umumnya karena kurangnya kemahiran dalam membawa kendaraan tersebut.
“Semakin besar sepeda motor, maka kemampuan pengendara dari sisi keterampilan, fisik, hingga kematangan mental juga harus ditingkatkan,” buka Victor kepada kumparan, Senin (4/5).
Dirinya menilai, karakter moge memang berbeda secara fundamental dibanding sepeda motor harian. Ia menegaskan bahwa ukuran, tenaga, serta bobot kendaraan menuntut kompetensi dari pengendara yang jauh lebih tinggi.
"Moge itu kan dari cara respons tenaga dan bukaan gas tentu saja berbeda dibanding motor kecil harian. Kemudian manuver dengan bobot yang berat itu menuntut energi yang besar dari pengendaranya," imbuh Victor.
Victor tak menampik, salah satu faktor penyebab kecelakaan juga bisa dari hal aspek emosional. Tak jarang hal-hal seperti mesin dan ukuran motor yang lebih besar dibanding sekitarnya, suara menggelegar, hingga nilai motor yang lebih mahal mempengaruhi psikologis.
"Dalam teori perilaku, lingkungan dan alat yang digunakan memang dapat membentuk gaya berkendara seseorang. Kalau semua itu dilakukan dan dianggap biasa saja, probabilitas terjadinya kecelakaan akan semakin tinggi," paparnya.
Victor juga menekankan bahwa kecelakaan moge sering kali tidak berdiri sendiri. Selain faktor pengendara, kondisi infrastruktur jalan, kesalahan pengguna jalan lain, hingga aspek teknis kendaraan dapat ikut berkontribusi terhadap insiden. Meski begitu, ia menilai human error masih menjadi penyebab dominan dalam banyak kasus.
Karena itu, ia menyarankan pendekatan keselamatan yang lebih komprehensif, khususnya saat aktivitas touring. Penggunaan jalur yang lebih aman, pemilihan rute di luar kota, serta koordinasi dengan aparat berwenang dinilai dapat menekan risiko kecelakaan di jalan raya.
Fitur keselamatan pada moge modern, tambah Victor sebenarnya sudah sangat baik. Namun teknologi tidak akan efektif tanpa diimbangi edukasi keterampilan dan mentalitas pengendara. Penguatan edukasi berkendara penting, bahkan penambahan regulasi tambahan termasuk sistem demerit bagi komunitas maupun individu.
"Makanya sekarang SIM roda dua dibagi menjadi beberapa golongan seperti C1 dan kemudian C2. Kenapa? Ya untuk memastikan kompetensi pengendara sesuai dengan karakter sepeda motor yang dia bawa," terangnya.
Pada akhirnya, fenomena kecelakaan moge menjadi pengingat bahwa peningkatan performa kendaraan harus selalu diikuti peningkatan tanggung jawab pengendara.
