Kata Pakar Soal Pengendara Alphard yang Terobos Lampu Penyeberangan di HI

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Insiden pengendara Alphard terobos lampu penyeberangan di Bundaran HI. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Insiden pengendara Alphard terobos lampu penyeberangan di Bundaran HI. Foto: Dok. Istimewa

Keributan antara pengendara mobil Alphard dan petugas keamanan di kawasan Halte TransJakarta Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Insiden ini terjadi di area penyeberangan pejalan kaki yang berada di salah satu titik lalu lintas tersibuk di ibu kota.

Kapolsek Metro Menteng, Braiel Arnold Rondonuwu, menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat kendaraan tersebut diduga menerobos lampu merah penyeberangan di depan Hotel Pullman. Petugas keamanan yang sedang membantu pejalan kaki kemudian memberikan teguran secara langsung.

“Sudah diselesaikan secara kekeluargaan dibantu mediasi oleh Kapospol di Pospol Thamrin,” kata Braiel saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, situasi memanas karena pengendara tidak menerima cara peneguran yang dilakukan petugas. Adu argumen pun terjadi sebelum akhirnya kedua pihak sepakat menyelesaikan masalah melalui mediasi di Pospol Thamrin.

Braiel juga menyebut adanya potensi pelanggaran lalu lintas dalam kejadian tersebut. Pengemudi mobil bisa saja dikenai sanksi tilang elektronik atau ETLE apabila terbukti melanggar aturan.

Insiden pengendara Alphard terobos lampu penyeberangan di Bundaran HI. Foto: Dok. Istimewa

Di sisi lain, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyoroti aspek etika dan perilaku berkendara dalam insiden ini. Ia menilai tindakan pengemudi mencerminkan kurangnya kepatuhan terhadap prioritas pejalan kaki.

“Menurut saya si pengemudi Alphard tidak beretika. Karena penyeberang jalan harus diprioritaskan dari mobil yang melintas," kata Sony kepada kumparan, Kamis (23/6/2026).

"Gaya mengemudi orang Indonesia yang srandal-srundul alias susah ngerem, akibat tumit kaki kanan mayoritas diletakkan depan pedal gas saat nyetir. Itu membuat tidak ada cover brake-nya sama sekali," tegasnya.

Sony bilang, kondisi tersebut membuat pengendara kurang mengantisipasi kecepatan saat bertemu dengan rambu-rambu yang mewajibkan harus melambat sampai berhenti.

Ilustrasi pedal mobil matik Foto: Shutterstock

“Kalau kakinya standby cover brake pasti lebih fokus untuk berhenti," pungkasnya.

Sony juga menegaskan bahwa tindakan menegur pelanggar umumnya hanya sia-sia. Pasalnya, menegur pelanggar justru menimbulkan konflik.

"Mungkin cara menegur yang tidak sesuai, antara lain perkataan, kapasitas, maupun statusnya sehingga banyak yang berujung ribut," katanya.

"Dan lagi, sebetulnya menegur itu buang-buang waktu dan tenaga. Karena mereka sadar kok kalau melanggar, pasti sudah siap juga berkonflik. Yang paling relevan ya diam saja,” ujarnya.