Otomotif
·
5 November 2020 17:35

Kata Psikolog Soal Arogansi Pengguna Moge, Bentuk 'Extended Self'

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kata Psikolog Soal Arogansi Pengguna Moge, Bentuk 'Extended Self' (46435)
searchPerbesar
Rombongan konvoi motor besar. Foto: dok. Istimewa
Oknum pengguna motor gede (moge) yang sedang konvoi, mengeroyok anggota TNI di Bukittinggi, Sumatera Barat, karena mereka tak terima ditegur.
ADVERTISEMENT
Ini tentu akan memperburuk citra pengguna moge di masyarakat. Walaupun memang tak semua memiliki karakter seperti itu.
Menanggapi kasus tersebut, psikolog dari Universitas Indonesia Erita Narhetali menyebut, ini merupakan salah satu bentuk extended self.
"Manusia cenderung menggunakan barang --dalam hal ini kendaraan-- yang dia gunakan sebagai perpanjangan dirinya. Moge ini besar dan powerful, secara fisik," ucapnya kepada kumparan belum lama ini.
Kata Psikolog Soal Arogansi Pengguna Moge, Bentuk 'Extended Self' (46436)
searchPerbesar
Ilustrasi rombongan moge Harley Davidson. Foto: Northernontario
Erita menyebut, ada satu artikel penting dari Russel Belk (1988) tentang Possession and Extended Self. Intinya konsumen memilih mengkonsumsi produk tertentu --terutama produk barang mewah, sebagai bagian dari upaya dia membuat identitas diri (possession), atau merujuk pada kecenderungan seseorang mendefinisikan diri berdasarkan kepemilikannya.
Motor gede secara fisik punya bodi yang besar dan powerful. Ini bukan tidak mungkin, mendorong pemiliknya juga untuk memiliki karakter atau identitas serupa ketika di jalan. Dan cenderung bersikap arogan.
Kata Psikolog Soal Arogansi Pengguna Moge, Bentuk 'Extended Self' (46437)
searchPerbesar
Aktivitas bakti sosial komunitas moge Harley Owners Group (HOG) di Posko Banjir Lebak bersama Bupati Lebak Banten. Foto: Istimewa
"Tapi tidak semua konsumen --pengguna motor gede-- mengalami hal tersebut," tutur Erita yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Polandia.
ADVERTISEMENT
Apalagi dalam gambaran-gambaran sinematik, tak sedikit pengguna moge yang diidentikkan dengan pria tangguh, pemberontak, bad-boy, abai hukum dan gambaran penjahat.
Walaupun kenyataannya hanya segelintir saja yang seperti itu, mengutip dari tesis milik Tarion J. Ahlers The Impact of Emotion on Consumer Decision-Making: A Consumer Behavior Analysis of Hedonic Consumption as Related to The Harley-Davidson Brand, Universitas Queen Margaret.
Kata Psikolog Soal Arogansi Pengguna Moge, Bentuk 'Extended Self' (46438)
searchPerbesar
Aktivitas bakti sosial komunitas moge Harley Owners Group (HOG), Bikers Brotherhood 1% MC Indonesia dan Ikatan Pengusaha Muda Indonesia bangun rumah lansia. Foto: Istimewa
Tentu saja harapannya, hal ini tidak akan terjadi lagi ke depan. Sebenarnya di sisi lain, pengguna moge termasuk di Indonesia, mereka rajin melakukan kegiatan positif seperti bakti sosial.
Ini juga tertulis dalam tesis Tarion J. Ahlers halaman 155, saat dirinya mewawancarai anggota komunitas Harley Owner Group (HOG), di daerah Edinburgh, Skotlandia.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020