Kehidupan Kedua Baterai Mobil Listrik, Solusi Energi Masa Depan
ยทwaktu baca 4 menit

Kendaraan ramah lingkungan seperti mobil listrik tidak selalu dilihat dari produk atau model yang dijual. Tetapi juga dari proses pembuatan hingga daur ulang komponen yang tak lagi terpakai, tak terkecuali untuk mobil bertenaga baterai.
Nissan misalnya, sudah cukup lama tidak hanya fokus membuat mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) dan kendaraan hibrida lainnya berbasis baterai. Tetapi turut menyiapkan ekosistem baterai ketika tidak lagi terpasang di kendaraan.
"Selama masa pakainya, mobil listrik menghasilkan emisi sangat sedikit secara signifikan dibanding mobil konvensional (bermesin bakar). Tetapi untuk keberlanjutan nyata, kami harus memberikan kehidupan ke-2 untuk baterainya," bunyi pernyataan resmi Nissan.
Semuanya berawal dari para insinyur Nissan ketika mengembangkan mobil listrik Leaf generasi pertama. Kala itu mereka berpikir, mobil listrik harus lebih dari sekadar kemampuan dan performa, tetapi juga bagaimana teknologi ini selaras dengan perkembangan dunia.
Akhirnya tercetus proyek Nissan Blue Switch, idenya adalah mengubah mobil listrik menjadi sumber daya darurat yang bersih, senyap, dan dapat bergerak dengan mudah ketika terjadi bencana alam.
Sudah tentu baterai adalah komponen utama dari mobil listrik. Masalahnya adalah, ketika BEV tak lagi digunakan, maka pada umumnya baterai tersebut juga tidak lagi memiliki peran atau nilai. Dari situ Nissan ingin membuat komponen tersebut dapat terus memiliki fungsi jangka panjang.
Beberapa bulan sebelum Nissan Leaf resmi dipasarkan ke publik pada Desember 2010 silam, pabrikan sudah terlebih dahulu bermitra dengan Sumitomo Corporation untuk mendirikan perusahaan 4R Energy Corporation.
Sekilas tentang 4R yang merupakan pilar dari Reuse (digunakan kembali), Refabricate (dibuat kembali), Resell (dijual kembali), dan Reuse (digunakan kembali). Menjadi inti konsep keberlanjutan elektrifikasi Nissan dan pabrikan Jepang pada umumnya.
Tujuannya tentu saja mengaplikasikan konsep empat pilar tadi untuk semua kendaraan listrik atau yang menggunakan baterai lansiran Nissan.
"Kami tahu bahwa untuk EV, solusi daur ulangnya harus jauh lebih cerdas daripada biasanya dan memiliki manfaat tersendiri bagi pemilik EV. Mendaur ulang mobil tua menjadi besi tua saja tidak akan cukup," kata CEO 4R Energy, Eiji Makino.
Nissan Leaf generasi awal kini usianya telah beranjak lebih dari 10 tahun, bahkan sudah ada penerusnya. Beberapa baterai dari hatchback elektrik ini sudah ada yang masuk di fasilitas milik 4R Energy untuk dipilah komponennya.
Begitu tiba, terlebih dahulu baterai tersebut akan disortir untuk dibedah. Sebab, beberapa kasus tidak semua komponen baterai BEV yang berusia tua, mengalami penurunan kinerja atau kerusakan, di antaranya bahkan ditemukan dengan kondisi seperti baru.
Komponen baterai yang mendapatkan nilai 'A', dapat digunakan kembali dalam unit baterai berkinerja tinggi baru untuk kendaraan listrik baru. Lalu nilai 'B', dinilai cukup kuat untuk mesin industri seperti forklift dan penyimpanan energi stasioner berukuran besar.
Misalnya, jika digunakan di rumah atau fasilitas komersial, baterai-baterai ini dapat menangkap kelebihan listrik yang dihasilkan panel surya pada siang hari, kemudian memasok listrik ke gedung saat malam hari.
Bahkan komponen baterai yang mendapatkan nilai 'C' pun masih dapat digunakan. Misalnya, dalam unit yang menyediakan daya cadangan saat jaringan listrik padam. Contoh di toko swalayan yang harus tetap menyalakan kulkas dan lampu meskipun listrik padam.
Para insinyur dari 4R Energy memperkirakan baterai yang didaur ulang ini memiliki masa pakai sekitar 10 hingga 15 tahun, yang secara dramatis memperpanjang masa pakai baterai kendaraan listrik dan mengurangi jejak karbonnya secara keseluruhan.
Makino berujar, dengan adanya terobosan tersebut diharapkan mengubah model bisnis kendaraan listrik ke depannya. Saat ini harga mobil litrik baru umumnya masih lebih tinggi dibanding dengan kendaraan konvensional.
Namun, teknologi Nissan dan konsep 4R Energy disebutnya bisa menjadi solusi untuk para pemilik BEV agar kendaraannya tetap bernilai ketika masa pakainya sudah tinggi.
Pemilik tidak perlu menjual mobil lama mereka hanya untuk dijadikan besi tua, tetapi bisa mendapatkan nilai yang jauh lebih tinggi untuk baterainya, yang menghasilkan pengembalian investasi yang baik pada akhir masa pakainya.
