Keluh Pedagang Mobil Listrik Bekas: 3 Bulan Gak Laku, Jantung Lemes

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wuling Binguo dan Air EV di Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wuling Binguo dan Air EV di Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Pasar mobil listrik (EV) bekas memiliki tantangan tersendiri bagi pedagang di bursa seken, terutama terkait perubahan harga jual. Kehadiran model baru dengan teknologi lebih mutakhir atau penawaran harga yang lebih kompetitif bisa memengaruhi nilai jual EV bekas.

Felix, pemilik showroom mobil bekas Linardi Auto Car di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat, mengatakan kondisi tersebut membuat pedagang perlu memperhatikan kecepatan perputaran stok. Mobil setrum bekas tidak bisa terlalu lama disimpan karena harga bisa berubah dalam waktu singkat.

“Mobil listrik harus cepat kejar penjualan cepat, kalau nggak cepat harga nanti terkoreksi. Nggak bisa kayak mobil bensin ngestok tiga bulan, mobil listrik tiga bulan belum laku jantung lemes," ujar Felix saat ditemui kumparan, belum lama ini.

Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Perubahan nilai jual itu menjadi salah satu tantangan dalam bisnis EV bekas. Felix menuturkan, ia perlu memperhitungkan harga saat membeli unit, perkiraan waktu penjualan, serta taktik lanjutan saat muncul produk baru dengan banderol yang lebih menarik.

Strategi menjaga perputaran stok juga berkaitan dengan risiko selisih harga dari para showroom lain. Menurutnya, semakin lama unit tersimpan, semakin besar pula peluang kompetitor dalam menghadirkan unit serupa dengan harga terjangkau.

"Harus melihat kompetitor juga, selisih sebulan ngambil kadang harga terkoreksi. Mereka dapat harga lebih murah, mau nggak mau harus keluar barang. Selisih satu hari, bisa beda juga harganya, banyak faktor tergantung orang yang jual unit, mungkin saat itu dia butuh uang jadi jual murah," terang Felix.

Showroom mobil bekas di Mega Glodok Kemayoran (MGK), Jakarta Pusat. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

Adapun, kondisi tersebut turut memengaruhi margin keuntungan yang bisa diperoleh pedagang. Felix menyebut, keuntungan dari penjualan EV bekas cenderung lebih tipis dibandingkan mobil bermesin konvensional.

“Kalau mobil bensin, margin bisa sekitar 5 sampai 10 persen. Mobil listrik bisa di bawah 5 persen, jadi perputarannya memang harus benar-benar cepat,” imbuhnya singkat.

Bagi pedagang, memilih unit yang tepat dan menetapkan harga kompetitif menjadi bagian penting dalam menjaga bisnis tetap berjalan. Perputaran stok yang cepat membantu mengurangi risiko perubahan harga, terutama ketika pasar EV terus diramaikan oleh model-model anyar.