Kenali Penyakit Mobil Peugeot Lawas, Cek Dulu Sebelum Beli Unit

Peugeot 206, 306, 406, dan 307 jadi mobil besutan Eropa yang banyak dipakai di Indonesia sampai sekarang. Keempat model tersebut rata-rata sudah berumur lebih dari 20 tahun sehingga punya titik lemah yang berbeda-beda.
Kamil, pemilik bengkel spesialis Peugeot, mengatakan keempat tipe itu paling sering masuk ke bengkelnya. Kerusakan yang muncul tidak pernah seragam antara satu model dengan model lain. Ia sendiri merupakan eks Technical Advisor di Astra Peugeot Cilandak dari sekitar tahun 1992-2004.
Berikut deretan penyakit khas Peugeot lawas berdasarkan keterangan Kamil saat kumparan menemuinya.
1. Peugeot 206
Bagian kaki-kaki belakang jadi titik lemah utama model tersebut. Sistem suspensi memakai batang torsi yang kerap mengalami luka di bagian dalam. Hal ini membuat pengerjaan menuntut penggantian laher sekaligus pembubutan.
Perangkat kelistrikan ikut jadi langganan masalah. Panel instrumen kerap menampilkan angka yang tidak benar, sementara kotak otak mesin atau ECU sering mati total.
“ECU sekarang sudah mahal, sudah jarang barangnya. Kalau ganti itu bekas atau copotan karena yang baru sudah tidak ada. Biasanya datang dari Singapura, Malaysia, atau Jogja,” ucap Kamil.
2. Peugeot 306
Blok mesin model ini paling rawan di antara seluruh tipe. Bahan aluminium paduan membuat blok mudah berkarat sampai akhirnya pecah setelah bertahun-tahun pemakaian.
Dasbor jadi keluhan berikutnya yang paling sering muncul. Bagian tengah dasbor mudah mengering, lalu rontok sampai bagian penutup ikut berjatuhan.
“Dasbornya paling tidak kuat 306 ini. Kalau servis ya hanya dilem atau solder saja, paling biasanya diganti harus satu set. Sekarang sudah susah barang baru, copotan pun kondisinya nggak bagus rontok juga,” tuturnya.
3. Peugeot 406
Mesin model tersebut jadi yang paling tangguh di antara seluruh tipe. Blok mesin dibuat dari besi cor, daya tahannya lebih awet dan tidak mudah berkarat.
Masalah justru muncul di bagian kipas tambahan atau extra fan yang kerap mati. Penyebabnya berkisar di relay maupun kabel yang biayanya tergolong ringan.
"406 dia tergolong lebih kuat sih. Bagian kaki-kaki juga nggak pakai torsi, bushing arm, ball joint, dan link stabilizer terpisah. Jadi, kalau diganti lebih enak karena bisa satuan," terangnya.
4. Peugeot 307
Perangkat power steering elektrik jadi titik lemah paling mahal di model tersebut. Sistem yang dipakai masih setengah elektrik, dengan pompa bertenaga listrik serta rack yang tetap mengandalkan minyak hidrolik.
Modul rem anti terkunci atau ABS ikut sering rusak dan tidak bisa diperbaiki. Penggantian jadi satu-satunya jalan dengan mengandalkan barang copotan.
"Power steering rusak masih bisa diakalin, kami ubah pakai hidrolik biasa. Kalau ABS rusak sama sekali nggak ada yang bisa betulin, itu bisa bikin matik error. Tipe 307 dia kaki-kaki paling kuat dari semua model," ujarnya.
Menurut Kamil, keempat model tersebut masih nyaman dipakai harian asal perawatannya tepat. Usia yang menyentuh 20 tahun membuat pemilik dituntut rajin memeriksa kondisi kaki-kaki beserta perangkat kelistrikan sebelum kerusakan menjalar ke bagian lain.
