Kesalahan Pembonceng Motor: Duduk Menyamping, Pegang Behel, dan Posisi Anak-anak

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi menggunakan HP ketika berkendara. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggunakan HP ketika berkendara. Foto: istimewa

Berkendara di jalan raya menggunakan sepeda motor tentunya lebih berbahaya dan menyangkut dengan nyawa sendiri serta orang lain. Keselamatan pun berada di tangan pengendara dan pembonceng.

Ya, pembonceng juga menjadi penentu keselamatan ketika berkendara di jalan raya, mulai dari posisi duduk hingga kelengkapan alat keselamatan pun juga berpengaruh.

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika menjadi pembonceng agar keselamatan ketika berkendara tetap terjamin di jalan raya.

Posisi duduk wajib diperhatikan

ilustrasi berboncengan saat naik motor. Foto: istimewa

Di Indonesia, masih banyak pembonceng yang kurang memperhatikan dan abai akan posisi duduknya. Justru ini menjadi bagian terpenting ketika sedang berkendara di jalan raya. Terutama untuk pembonceng yang masih sering membiasakan duduk menyamping.

“Posisi duduk menyamping itu sebenarnya berbahaya, karena kalau terjadi kecelakaan (pembonceng) tidak bisa memposisikan diri yang aman,” ujar Jusri.

Posisi tersebut tidak hanya berbahaya untuk pembonceng tetapi juga untuk pengemudi, karena akan mengalami kesulitan untuk menyeimbangkan motor ketika menikung.

Ilustrasi berboncengan. Foto: cdn.technologyreview.com

Jusri menjelaskan bahwa posisi duduk yang benar itu searah dengan pengemudi kemudian kaki pembonceng juga menutup ke pengendara. Kemudian ketika pengemudi melakukan manuver menikung, pembonceng juga harus menyesuaikan posisinya sehingga lebih mudah.

Hindari berpegangan pada behel motor

Kebiasaan buruk lainnya yang masih dilakukan oleh pembonceng yakni berpegangan pada behel motor. Meskipun terlihat aman dan mampu memberikan keseimbangan yang bagus, nyatanya ini berbahaya.

“Nah, jangan biasakan memegang ini (behel motor), biasakan tangan memegang bagian samping pengemudi atau setidaknya di atas lutut,” tutur Jusri.

Jangan biasakan membawa anak

Naik motor dengan anak Foto: Shutterstock

Mengingat di Indonesia banyak orang yang menjadikan sepeda motor sebagai kendaraan utama. Sehingga tidak sedikit keluarga yang nekat membawa anaknya menggunakan sepeda motor, bahkan satu motor pun bisa membawa 4 orang secara bersamaan.

“Anak kecil di mana kedua kakinya tidak bisa menempel di footpeg, itu tidak diperkenankan untuk dibawa, karena akan membahayakan anak itu dan orang tuanya,” kata Jusri.

Kemudian ia juga melarang untuk anak kecil duduk di depan, karena dapat mempersempit ruang gerak pengendara serta untuk menghindari potensi terpental jauh ke depan ketika mengalami kecelakaan.

“Seharusnya dia (anak) ada di belakang, sehingga bisa mengalami absorbsi daripada kendaraan, ada ketahanan dari si bapak di depan, sehingga si anak mengalami benturan yang tidak semasif diterima oleh ban depan, atau motor atau si orang tuanya,” pungkas Jusri.