Konversi Mobil Jadi Bahan Bakar Gas, Bikin Pengeluaran Harian Lebih Hemat
·waktu baca 4 menit

Konversi mobil bensin jadi bahan bakar gas (BBG) bisa jadi opsi menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Terlebih lagi, harga BBG jauh lebih rendah dibandingkan BBM.
Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala mengatakan, konversi BBG jadi cara efektif bermobilitas lebih irit pengeluaran.
“Yang paling terdepan dari konversi BBG adalah efisiensi. Misalkan taksi online sehari jalan 300 kilometer dengan konsumsi bahan bakar 10 km/liter, artinya dia membutuhkan 30 liter bensin seharga Rp 10 ribu (Pertalite), jadi Rp 300 ribu per hari,” buka buka Andy di bengkel SuperMekanik, Jakarta, akhir pekan lalu.
Sementara, BBG jauh lebih hemat dengan hitungan harga Rp 4.500 per LSP (Liter Setara Premium). Alhasil dengan rute yang sama, pengguna hanya membutuhkan Rp 135 ribu untuk membeli 30 LSP gas untuk perjalanan 300 kilometer.
“Berarti dia (taksi online) bisa hemat Rp 165 ribu per hari. Dikalikan 30 hari jadi hemat Rp 4.950.000, dananya bisa dijadikan untuk nyicil mobil kan,” kelakarnya.
Hitung-hitungan tersebut telah ia buktikan sejak mengkonversi mobilnya dengan BBG sedari 2023 lalu. Andy juga sudah melakukan uji coba dengan berkendara Jakarta sampai Bali menggunakan bahan bakar gas.
Tersedia dalam berbagai kapasitas
Komogas menyediakan tiga kapasitas tabung BBG, mulai dari 8 LSP, 12 LSP, dan 16 LSP. Namun, ia menyarankan untuk menggunakan 16 LSP lantaran lebih besar kapasitasnya dan memiliki jarak tempuh lebih jauh.
“Ada ukuran 12 dan 16 LSP. Kalau menurut saya, tanggung mending yang 16 LSP sekalian. Ada juga yang 8 LSP buat yang nggak mau tabung besar, tapi kapasitasnya kecil banget,” jelas Andy.
Cara kerja sistem BBG
Sistem BBG pada mobil bekerja secara paralel dengan mesin bensin. Pengemudi pun bisa menyesuaikan bahan bakar yang ingin digunakan melalui tombol yang tersedia di dalam kabin.
Proses aktivasi sistem BBG dimulai dengan pemasangan berbagai komponen kit, mulai dari tabung gas di bagasi, lubang pengisian gas, solenoid, reducer, filter, selang-selang, serta injector atau nozzle.
Pertama, gas masuk ke dalam tabung lewat lubang pengisian. Gas di dalam tabung tersebut akan memiliki tekanan hingga 200 bar.
Kemudian, gas dari tabung akan melalui reducer untuk mengurangi tekanan gas dari 200 bar menjadi 2 sampai 3 bar saja. Setelahnya gas dikirim ke filter untuk memastikan kandungannya bersih.
Terakhir, gas ditembakkan ke ruang bakar lewat injector yang dipasang pada intake manifold. Seluruh proses tersebut diatur oleh Electronic Control Unit (ECU) khusus yang bekerja secara berdampingan dengan ECU standar kendaraan.
Perpindahan energi antara gas dan bensin pun bisa dilakukan selagi berjalan. Bahkan di kecepatan tinggi sekalipun.
Hal yang harus diperhatikan
Meski punya keunggulan dalam hal efisiensi bahan bakar lantaran harga per LSP lebih murah dari BBM subsidi, tetap ada beberapa hal yang harus diperhatikan usai melakukan konversi BBG.
“Yang pasti bagasi jadi jauh berkurang, karena dipakai untuk tempat tabung BBG. Kemudian harus bor (lantai bagasi) di belakang. Jalur intake juga dibor buat masuk injector gas,” ujarnya.
“Garansi untuk mobil baru juga sudah pasti hangus kalau dikonversi menjadi BBG,” imbuhnya.
Adapun BBG dinilai setara dengan BBM oktan 120, sehingga mampu memberikan proses pembakaran semakin sempurna. Namun, hal tersebut harus didukung dengan busi yang mumpuni, yaitu jenis iridium agar menghasilkan efektivitas lebih tinggi.
Sistem BBG juga katanya mampu memberikan usia pakai oli yang lebih panjang. Andy bersama salah satu konsumennya pernah melakukan pengujian menggunakan oli dengan viskositas 0W-20. Hasilnya, pelumas tersebut mampu bertahan hingga pemakaian 30 ribu kilometer.
“Itu karena pembakaran dengan BBG lebih sempurna, jadi tidak ada jelaga (endapan) di ruang bakar, sementara kalau bensin masih ada jelaga,” tutur Andy.
Biaya konversi
Andy melalui Komogas menyediakan konversi BBG dengan harga berbeda-beda, tergantung kapasitas dan material tabung yang digunakan.
Tersedia tipe 1 dengan bahan full besi, tipe 2 terdiri dari 70 persen besi dan 30 persen composite, tipe 3 mengandung 70 persen composite dan 30 persen besi, terakhir ada varian tertinggi dengan 100 persen composite.
“Kalau main di tabung tipe 2 itu Rp 17 juta, tabung tipe 1 Rp 14 juta, tipe 3 Rp 24 juta, dan tipe 4 Rp 25 juta,” rincinya.
Bagi masyarakat yang tertarik untuk mengkonversi mobilnya menjadi BBG bisa mengunjungi bengkel SuperMekanik di Jl. Anggrek Garuda No. 07, RT. 3/RW. 3, Kemanggisan, Kec. Palmerah, Kota Jakarta Barat.
