Limbah Cangkang Kepiting Rajungan Juara Toyota Eco Youth ke-13

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Toyota Eco Youth 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Toyota Eco Youth 2025. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) kembali menggelar Toyota Eco Youth (TEY) dengan tema utama “ECOActivism - Saatnya Beraksi Jaga Bumi” sebagai ajang adu inovasi dan teknologi, dalam mendukung program penghijauan dan kepedulian lingkungan.

Kompetisi TEY 2025 menjadi gelaran ke-13 setelah berjalan selama hampir 20 tahun. Nandi Julyanto, Presiden Direktur PT TMMIN mengamini bahwa ajang ini menjadi wadah generasi muda dalam mewujudkan inovasi teknologi berkelanjutan.

“Generasi muda adalah kunci masa depan Indonesia, pembawa inovasi dan semangat untuk mewujudkan negeri yang lebih hijau dan berkelanjutan," buka Nandi pada acara Awarding Day Toyota Eco Youth di Jakarta, Senin (25/8/2025).

"Kami berharap program ini terus menginspirasi gerakan kepedulian lingkungan di kalangan pelajar serta berkontribusi bersama masyarakat mendukung target netralitas karbon pemerintah," sambungnya.

Inovasi SMAN 1 Matauli Pandan bertajuk Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Sejak pertama kali digelar pada 2005, TEY telah melibatkan 2.033 sekolah SMA/sederajat dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, dengan total 9.972 proposal sudah diterima. Dari hampir 10 ribu proposal tersebut, 232 ide teknologi berhasil diwujudkan secara nyata.

Pada TEY ke-13 di tahun 2025, 1.125 proposal diterima dari 338 sekolah di seluruh Indonesia. Kemudian, seluruh pendaftar akan disaring hingga keluar 25 ide terbaik yang menjadi finalis TEY.

Para finalis selanjutnya akan mendapat pengayaan dari jajaran direksi Toyota sebelum dinilai oleh dewan juri.

Adapun rangkaian TEY diawali dengan kick off dan sosialisasi untuk membekali para peserta dengan kemampuan menyusun proposal Eco-Project, teknik komunikasi efektif, dan pemahaman isu strategis. Mulai dari circular economy, sustainability, kolaborasi, pemberdayaan diri, hingga dekarbonisasi.

Inovasi SMAN 1 Matauli Pandan bertajuk Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Dewan juri TEY ke-13 berasal dari lintas bidang, yaitu Akademisi Universitas Indonesia Prof. Jatna Supriatna, Ph. D., President Green Generation Zidane Adha, Editor in Chief National Geographic Indonesia Didi Kaspi Kasim, dan pihak dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Lingkungan Hidup Nahdiya Maulina.

Sementara itu, aspek penilaian Proposal Eco-Project terdiri dari orisinalitas, inovasi, identifikasi masalah, latar belakang ide, pelibatan stakeholder, serta pemanfaatan platform digital. Ada pula kriteria tambahan mencakup rencana pelaksanaan, keterlibatan eksternal, dampak sosial-lingkungan yang terukur, dan keberlanjutan program.

Juara Toyota Eco Youth ke-13

Pada Senin (25/8/2025), SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Sumatera Utara ditetapkan sebagai pemenang TEY ke-13. Penilaian didasari proposal Eco-Project terbaik dengan judul Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan.

Sebagai juara pertama, SMA Negeri 1 Matauli Pandan menerima hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp 100 juta untuk mendukung kelanjutan proyek.

Fauzan Yudha Azhary Harahap, siswa SMA Negeri 1 Matauli Pandan menceritakan awal tercetusnya ide mengolah cangkang kepiting menjadi material bernama ‘Kitosan’ untuk memantik energi listrik ketika bercampur dengan air laut.

Ia melihat keresahan petani yang kewalahan menjalankan operasional penangkapan ikan dengan metode Bagan Tancap. Berdasarkan hasil observasinya, para nelayan merasa bahwa penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mengaktifkan generator di tengah laut sudah terlalu mahal.

Inovasi SMAN 1 Matauli Pandan bertajuk Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan Efektivitas Kitosan dari Limbah Cangkang Kepiting Rajungan. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Berdasarkan keluhan masyarakat tersebut, Fauzan bersama rekannya, Shadeq Fikri Nasution menginisiasi pengembangan alat untuk menggantikan fungsi generator Di tengah laut. Sebab, dinilai lebih efisien sekaligus mendaur ulang limbah industri.

Bicara limbah, cangkang kepiting yang digunakan merupakan sisa produksi dari pabrik pengolahan daging kepiting yang dibuang ke laut. Berdasarkan data yang mereka dapat, industri tersebut menghasilkan 109,5 ton per tahun limbah cangkang kepiting.

”Kami mensosialisasikan produk kami kepada kawan-kawan kami di SMA Negeri 1 Matauli Pandan, khususnya kepada masyarakat yang menangkap ikan dengan metode Bagan Tancap,” kata Shadeq, di Jakarta, Senin (25/8/2025).

Ia berharap produk inovasinya bisa dimanfaatkan bukan hanya bagi nelayan Bagan Tancap di daerahnya, melainkan bisa bermanfaat bagi seluruh nelayan di Indonesia.

Alat hasil pengembangan Shadeq dan Fauzan mampu memproduksi listrik berkekuatan 1,3 volt dari 120 ml air laut dan 2 gram Kitosan. Apabila dalam jumlah banyak, maka mampu menghasilkan daya listrik yang lebih besar.

Selain kategori utama Proposal Eco-Project, ada juga kompetisi sampingan ‘Mencari Jurnalis Muda’. Pada ajang tersebut, tim SMA Negeri 63 Jakarta yang beranggotakan Aisyah Alya Khoirunnisa menyabet Juara 1 kejuaraan Pop Writing Competition. Sementara, kelas Creative Video Competition dimenangkan oleh Riananti Sesyllia Balqis dari SMA Neger 2 Tanggul, Jember.