Malaysia Buat Regulasi Baru untuk BEV, Tak Sekadar Lindungi Merek Lokal

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mobil di Malaysia. Foto: TY Lim/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mobil di Malaysia. Foto: TY Lim/Shutterstock

Pemerintah Malaysia menerbitkan aturan baru untuk kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) yang tidak saja mengembangkan kemampuan industri otomotif nasionalnya, tetapi juga melindungi merek lokal mereka.

Dilansir The Edge, Wakil Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI), Sim Tze Tzin mengatakan pihaknya mendorong perusahaan kendaraan listrik asing untuk mendirikan operasi di Malaysia dan bekerja lebih erat dengan pemasok lokal.

"Kami ingin para produsen asing berkolaborasi dengan vendor lokal kami dalam ekosistem ini agar mereka dapat meningkatkan kemampuan, naik ke rantai nilai, dan memposisikan Malaysia untuk menjadi pengekspor komponen dan suku cadang otomotif, sekaligus mempersiapkan diri untuk masa depan kendaraan otonom," ucap Sim saat konferensi otomotif dan mobilitas ASEAN ke-2 di Malaysia.

Sim menambahkan, langkah tersebut bertujuan memperkuat seluruh ekosistem. Ekosistem ini tidak hanya melayani dua perusahaan atau hanya Proton dan Perodua, tetapi banyak produsen mobil, termasuk merek Eropa, Jepang, dan China yang beroperasi di Negeri Jiran.

Kendaraan listrik Proton e.MAS7 meluncur dari jalur perakitan baru di pabrik EV khusus perusahaan di Tanjung Malim, Perak , Malaysia. Foto: Dok. Malaysia Mail/Yusof Isa

Ia turut menanggapi kekhawatiran terkait peraturan baru dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri. Mulai 1 Juli 2026, impor BEV harus berharga minimal 200 ribu ringgit (sekitar Rp 888 jutaan) dan memiliki daya motor minimal 180kW.

“Jika mereka ingin mematok harga kendaraan listrik antara 100 ribu dan 200 ribu ringgit (Rp 444-888 jutaan), mereka dapat bekerja sama dengan produsen kontrak untuk memproduksinya di sini (Malaysia),” imbuhnya.

Sim juga menerangkan bahwa kebijakan tersebut bertujuan mendorong produsen mobil asing untuk mendirikan operasi perakitan lokal atau berkolaborasi dengan produsen dan pemasok kontrak Malaysia.

Dirinya sekaligus menepis kekhawatiran pejabat setempat perihal kebijakan tersebut dapat mempersempit pilihan model BEV yang lebih terjangkau. Sebab, model dengan banderol 100-200 ribu ringgit nantinya akan dijual lebih murah bila sudah dibuat secara lokal.

Malaysia bidik penguatan industri semikonduktor otomotif

Perodua QV-E menjadi mobil listrik pertama hasil riset dan pengembangan mobil nasional Malaysia. Foto: Dok. Paultan

Dalam pidato pembukaan konferensi tersebut, Sim mengatakan fokus pemerintah adalah membangun jaringan ekosistem yang lengkap mencakup manufaktur, rantai pasok, infrastruktur, sumber daya manusia, dan inovasi.

Ia membeberkan sektor otomotif Malaysia menyumbang sekitar 80 miliar hingga 95 miliar ringgit (Rp 355,2-421,8 triliun) terhadap produk domestik bruto pada tahun 2025 dan mendukung lebih dari 750 ribu lapangan kerja.

Menurut Sim, Perodua bekerja sama dengan sekitar 190 penyuplai sementara Proton memiliki jaringan 116 vendor, dengan pengeluaran pengadaan gabungan hampir 15 miliar ringgit (Rp 66 triliun) untuk pemasok suku cadang lokal.

Dikatakannya Malaysia saat ini memiliki lebih dari 640 produsen suku cadang otomotif, termasuk antara 150 dan 180 pemasok Tier 1 yang melayani merek lokal dan asing. Saat ini, Sim berambisi pengembangan semikonduktor industri manufaktur otomotif.

Perodua QV-E menjadi mobil listrik pertama hasil riset dan pengembangan mobil nasional Malaysia. Foto: Dok. Paultan

Ini karena kendaraan listrik hingga kendaraan otonom (nirawak) semakin intensif dalam hal pemanfaatan perangkat lunak dan chip untuk pengoperasiannya. Apalagi, Malaysia disebut eksportir semikonduktor terbesar ke-6 di dunia.

“Salah satu bidang di mana Malaysia memiliki keunggulan strategis yang berbeda adalah di sektor semikonduktor. Kami memiliki basis manufaktur yang mapan, kemampuan yang kuat dalam perakitan dan pengujian, serta kehadiran yang berkembang dalam desain dan pengemasan canggih,” katanya.

Sim, ingin menciptakan ekosistem yang lebih terintegrasi di mana industri otomotif dan semikonduktor bekerja secara sinergis. Memungkinkan Malaysia meningkatkan nilai industrinya lebih besar, memperkuat kemampuan teknologi, dan posisi negara sebagai pemain kunci dalam solusi mobilitas generasi berikutnya.