Membedah Sisi Lain di Balik Pertumbuhan Penjualan Motor April 2026

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warna baru motor skutik Yamaha Grand Filano di IMOS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Warna baru motor skutik Yamaha Grand Filano di IMOS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan

Dinamika industri saat ini yang juga bersinggungan dengan sektor otomotif turut menjadi perhatian sendiri dari asosiasi hingga produsen sepeda motor. Meski penjualan roda dua domestik terlihat stabil, namun tetap ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan.

Data Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia atau AISI terbaru melampirkan pertumbuhan penjualan pada Januari hingga April kemarin sebesar 2,2 persen dibanding periode serupa 2025. Sebelumnya tercatat 2.089.953 unit menjadi 2.135.063 unit.

Namun demikian, Ketua Bidang Komersial AISI, Sigit Kumala, memandang peningkatan tersebut tidak serta-merta berdasarkan kondisi langsung yang terjadi di lapangan atau efek dari aktivitas ekonomi masyarakat.

"Ya, kita melihat begini ya. Kita belum bisa menduga, karena kalau dibandingkan ekonominya, melihatnya tumbuh, kan, tapi yang tumbuh sektor government expenditure-nya (pengeluaran pemerintah), kan," buka Sigit, dihubungi kumparan, Jumat (15/5/2026).

Deretan motor Honda di IMOS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan

Secara karakteristik pasar, Sigit menilai penjualan sepeda motor sangat erat kaitannya dengan aktivitas ekonomi riil masyarakat. Ia menegaskan bahwa roda dua biasanya berkembang mengikuti dinamika sektor informal dan mobilitas ekonomi harian.

“Sedangkan pertumbuhan dari sektor rumah tangga itu yang paling besar setelah pemerintah kan, dia hanya tumbuh sekitar 5 persen. Jadi kita masih melihat pertumbuhan ini sebenarnya berasal dari sektor mana,” lanjutnya.

Dirinya juga mengungkapkan sejumlah tantangan yang perlu dicermati selain faktor daya beli, yakni nilai mata uang rupiah yang saat ini melemah dan perihal opsen pajak. Selain itu, ancaman meningkatnya harga bahan baku dari sisi produsen.

"Kalau bisa, situasinya cepat kondusif, ya. Karena ini akan berpotensi memberatkan daya beli dan dari sisi produsen pastinya mereka akan melakukan adjustment yang dapat berdampak pada pengurangan produksi," papar Sigit.

Motor TVS Apache 310 dan iQube di IMOS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan

Secara bulanan, periode April saja total sepeda motor lansiran Honda, Yamaha, Kawasaki, Suzuki, dan TVS telah terserap sebanyak 520.972 unit. Ini juga lebih tinggi dibanding bulan yang sama tahun lalu dengan catatan 406.691 unit.

Hasil April kemarin juga lebih banyak dibandingkan dengan Maret 2026 yang mencatatkan angka 448.974 unit. Secara pola tahunan, distribusi sepeda motor Indonesia masih bergerak dalam rentang stabil di atas dua juta unit untuk empat bulan pertama tahun berjalan.

"Tetapi memang April itu secara umum terlihat naik, kan, karena Maret biasanya hari kerja lebih sedikit karena ada Lebaran dan masa libur," tanggap Sigit.

Senada dengan Sigit, Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Rifki Maulana menilai pertumbuhan penjualan sepeda motor caturwulan pertama 2026 perlu dianalisis lebih lanjut.

Tampilan Suzuki Access 125 di Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025. Foto: Alvian Yoga Yulianto/kumparan

“Hal-hal seperti ini saya rasa pastinya common di industri otomotif, makanya situasi sekarang boleh dibilang kurang kondusif. Mudah-mudahan ini segera membaik,” kata Rifki ditemui di Tangerang, Banten awal pekan ini.

Ia menilai kemungkinan adanya perubahan perilaku konsumen masih layak ditinjau lebih detail, termasuk dugaan adanya pergeseran preferensi kendaraan. Rifki bilang, dinamika antar segmen transportasi juga dapat memengaruhi performa pasar roda dua.

“Saya perlu melihat datanya secara rinci lagi. Namun pertanyaannya apakah ada shifting dari (konsumen) roda empat? Kalau memang begitu, (artinya) bagi investor roda dua justru (masih) ada potensi,” ujarnya.

Meski demikian, Rifki menegaskan data penjualan pasar domestik tidak bisa disederhanakan sebagai kondisi yang sepenuhnya aman. Industri masih berada dalam fase adaptasi terhadap tekanan ekonomi, perubahan biaya operasional, serta dinamika permintaan konsumen.

“Makanya sebenarnya tidak bisa dibilang bahwa semuanya itu pasar roda dua secara umum aman,” tutupnya.