Merek China Kian Masif di Indonesia, Ford: Kami Beda Segmen

RMA Indonesia sebagai agen pemegang merek (APM) Ford di dalam negeri secara terbuka menyinggung perihal kompetisi di pasar domestik saat ini yang kini mulai ramai kedatangan pabrikan asal China.
"Ya kita tahu bahwa pada beberapa segmen, mereka (merek China) cukup agresif, ya. Tetapi saya tidak bisa berkomentar tentang kompetisi secara umum," buka Regional Director RMA Indonesia, Roelof Lamberts ditemui di Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026).
Lamberts meyakini, tidak semua merek memiliki citra dan nilai yang setara. Ia menjelaskan, Ford yang sudah lama berkecimpung di industri otomotif, termasuk di Indonesia memiliki karakter dan cita rasa tersendiri.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya pikir, dengan produk kami yang ada pada dasarnya berada di dalam segmen tersendiri. Jadi kita tidak benar-benar melirik pabrikan China, tidak," katanya.
Mengenai strategi elektrifikasi di Tanah Air, Lamberts hanya menjelaskan bahwa Ford secara global sudah memiliki ragam teknologi mulai dari hybrid electric vehicle (HEV) sampai battery electric vehicle (BEV).
"Mungkin Anda sudah tahu, Ford telah mengembangkan platform (untuk kendaraan) elektrik universal. Jadi cepat atau lambat itu akan digunakan untuk model global dan kita juga akan mendapatkannya, kalau saya tidak keliru," terangnya.
Sebelumnya CEO Ford Motor Company, Jim Farley secara terbuka memuji kemampuan dan kekuatan industri otomotif China. Bahkan menyebut, perusahaannya tertinggal hingga 25 tahun dalam sejumlah aspek teknologi utama.
Pernyataan tersebut mencuat seiring pengalaman pribadi Farley yang pernah menggunakan mobil listrik Xiaomi SU7, sedan listrik asal China yang sempat mencuri perhatian industri otomotif global. Ia dikabarkan sangat terkesan dengan pendekatan teknologi dan pengalaman pengguna yang ditawarkan.
“Tidak mengherankan mereka bisa begitu sukses. Pengalaman yang diberikan Xiaomi sangat mulus dan terintegrasi,” ujar Farley dikutip Car News China.
Untuk memahami langsung kekuatan para pesaing, Farley bahkan mengambil langkah tak biasa. Setelah mengunjungi China dua tahun lalu, ia meminta tim manajemennya memilih lima kendaraan listrik terbaik asal Negeri Tirai Bambu untuk dikirim ke Amerika Serikat. Mobil-mobil tersebut kemudian digunakan oleh jajaran pimpinan Ford sebagai kendaraan harian.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya membuka mata internal Ford terhadap realitas persaingan global. Farley menegaskan, Ford tidak boleh mengulangi kesalahan masa lalu dengan meremehkan kekuatan industri otomotif Asia.
Ford pernah melewatkan Jepang dan Korea Selatan. Kita tidak boleh melewatkan China.
CEO Ford Motor Company, Jim Farley.
Bagi Ford, kondisi ini menjadi tantangan besar sekaligus alarm keras untuk berbenah. Di tengah gempuran merek China yang agresif menggabungkan teknologi canggih, efisiensi manufaktur, dan harga kompetitif, transformasi menyeluruh dinilai menjadi satu-satunya jalan agar pabrikan asal Amerika Serikat tersebut tetap relevan di era elektrifikasi.
