Mesin PHEV Jaecoo Diklaim Aman Tenggak Bensin Campuran Etanol

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peresmian diler pertama Jaecoo di Jakarta Barat. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian diler pertama Jaecoo di Jakarta Barat. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka rencana menghadirkan bahan bakar minyak (BBM) dengan kandungan etanol 10 persen. Menanggapi hal ini, Jaecoo Indonesia memastikan seluruh lini produknya aman terhadap BBM tersebut.

“Kalau kita lihat wacana pemerintah ya wacananya kan 10 persen (mengandung etanol). Sebenarnya untuk mobil-mobil kami yang ada mesin bensinnya itu didesain bisa mencapai 10 persen,” kata Head of Product Jaecoo Indonesia, Ryan Ferdiean, Selasa (14/10/2025).

Sebagai catatan, mesin yang diusung Jaecoo J7 SHS dan Jaecoo J8 SHS merupakan mesin modern dengan kombinasi motor listrik.

Peluncuran Jaecoo J8 SHS ARDIS. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Meski terbukti tahan, ia bersama pihaknya mengharapkan waktu untuk beradaptasi dan melakukan riset terkait kandungan etanol di dalam bensin yang beredar di Indonesia.

“Harapannya kita juga punya waktu untuk menguji juga di mobil kita. Tapi secara spesifikasi sudah comply dengan (etanol) 10 persen,” sambungnya.

“Development kita di headquarter sudah sanggup sampai 10 persen. Tentu dengan BBM di China ya,” kata Ryan.

Bicara spesifikasi, Jaecoo J7 SHS dibekali unit mesin 1.500 cc turbocharged bertenaga 301 dk dan torsi 525 Nm. Adapun baterai yang digunakan berkapasitas 18,3 kWh dengan daya jelajah full listrik 90 kilometer (WLTP).

Sementara itu, Jaecoo J8 SHS diperkuat jantung pacu 2.000 cc 4-silinder turbocharged dengan keluaran tenaga 530 dk dan torsi maksimum 650 Nm. Baterainya lebih besar di angka 34,4 kWh.

Ilustrasi Pertamax Green 95. Foto: Dok. Istimewa

Kementerian ESDM sebelumnya telah menetapkan penerapan mandatori campuran bioetanol 10 persen di dalam bensin baru mulai berlaku pada 2028.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi mengatakan, masih ada beberapa tahap hingga akhirnya bisa direalisasikan.

“Nanti kalau ada mandatori, baru keluar Kepmen (keputusan menteri). Jadi kita sedang membahas Kepmen, karena Kepmen pentahapannya itu menjadi acuan dari para investor-investor atau pengusaha-pengusaha,” jelas Eniya.

Adapun BBM non-subsidi atau PSO menjadi produk awal untuk disuntik bioetanol. Saat ini, PT Pertamina (Persero) telah memasarkan BBM mengandung etanol, yaitu dengan Pertamax Green beroktan 95.