Meski Teknologi Otonom Hadir, BMW Tidak Akan Hilangkan Setir Kemudi

kumparanOTOverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobil listrik BMW i8 (Foto: Helmi Afandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Mobil listrik BMW i8 (Foto: Helmi Afandi/kumparan)

Teknologi kendaraan otonom di masa depan memungkinkan untuk sebuah mobil berjalan tanpa memerlukan sosok pengemudi. Hal ini tentu sangat menarik karena orang tidak perlu lagi berhadapan langsung dengan kemacetan dan bisa melakukan hal lainnya saat di dalam mobil pribadi.

Meski begitu untuk pabrikan mobil premium seperti BMW yang mengedepankan sisi emosional produk, teknologi seperti ini mungkin malah bisa menjadi ancaman. Ada beberapa dampak buruk yang dihadirkan teknologi ini yang mungkin mengancam eksistensi mobil-mobil premium di masa depan.

Mulai dari soal prestise kendaraan. Dengan teknologi otonom berkendara dengan mobil BMW ataupun dengan mobil lainnya akan terasa sama saja, mengingat semuanya dikendalikan oleh sistem dalam kendaraan. Namun sudut pandang berbeda coba diberikan oleh Dr. Alexander Kotouc, Head of Product Management BMW i dari BMW Group pusat. Dia coba mengambil prespektif dari pesawat terbang yang menurut dia sudah menerapkan teknologi otonom ini.

"Kalau kamu naik pesawat terbang --sebutlah-- dari Singapura ke Munich, mayoritas waktu saat pesawat di udara yang berkeja adalah pilot otomatis. Jadi pada dasarnya kita sudah menikamati mobilitas otonom," cerita Alexander mengawali penjelasasnnya.

"Tapi kan kemudian ada pilihan, apakah kamu mau naik Singapore Airlines atau mungkin maskapai penerbangan lain yang lebih murah, dan setiap orang akan punya preferensi sendiri. Padahal sebenarnya kan mereka menggunakan pesawat yang sama dan teknologi yang juga tidak jauh berbeda," ujar Alexander melanjutkan.

Hal yang sama menurut dia juga akan terjadi nantinya di masa depan dengan mobil tanpa sopir. BMW sebagai pabrikan mobil premium akan menjajikan sebuah pengalaman berkendara yang berbeda bagi penumpang di dalam kendaraan.

Teknologi otonom BMW (Foto: dok. BMW Group China)
zoom-in-whitePerbesar
Teknologi otonom BMW (Foto: dok. BMW Group China)

Lebih lanjut Alexander kemudian mengungkapkan, sekalipun nantinya mobil-mobil BMW sudah dilengkapi teknologi otonom, mereka tetap menjanjikan 'Sheer Driving Pleasure', sesuai moto jenama Jerman ini. Hal ini salah satunya diupayakan dengan tetap menghadirkan setir kemudi pada mobil otonom mereka nantinya. Ini menjadi bahasan yang menarik mengingat pendekatan berbeda memang sempat dicanangkan pabrikan seperti General Motors yang ingin membut mobil tanpa setir kemudi.

Menurut Alexander hal ini dikarenakan menurut dia kehadiran teknologi otonom adalah untuk memberi pilihan bagi pemilik kendaraan.

"Contohnya begini, kalau saya sedang pergi berlibur bersama istri saya yang duduk di bangku pengemudi, dan kita sedang melihat matahari tenggelam dengan angin bertiup, saya akan memilih menyetir sendiri mobil dan hal ini bahkan akan tetap saya lakukan 20 tahun dari sekarang," terang dia.

Nah, yang penting menurut dia, kala pengemudi memutuskan untuk menyetir sendiri pengalaman berkendara yang ditawarkan adalah pengalaman mengemudikan mobil BMW.

"Jadi kami tidak akan mengambil itu (pengalaman berkendara) dari kamu," tegasnya lagi.

Proyeksi teknologi otonom BMW

BMW sendiri sebenarnya sudah punya proyeksi yang cukup jelas untuk teknologi kemudi swakemudi alias moil 'tanpa sopir'. Tahun 2021 akan menjadi titik yang penting bagi pengembangan teknologi ini, mereka akan menghadirkan BMW iNext, proyek mobil listrik dengan teknologi otonom Level 3. Sementara di waktu bersamaan mereka akan mulai memproduksi untuk skala kecil --bukan produksi massal-- untuk mobil otonom Level 4 yang rencananya hadiri di beberapa kota tertentu.

BMW Vision Next 100  (Foto: Dok. BMW)
zoom-in-whitePerbesar
BMW Vision Next 100 (Foto: Dok. BMW)

Sedangkan untuk teknologi otonom Level 5, yang disebut Alexander sebagai 'robotaxi level', diperkirakan akan hadir paling cepat tahun 2030 dengan catatan ada beberapa syarat harus terpenuhi. Alexander menjelaskan untuk penerapan teknologi otonom tingkat tertinggi ini, ada beberapa hal yang harus sudah tersedia seperti peta navigasi yang sempurna, jaringan komunikasi yang menjamin konektivitas sekelas 5G, dan penerapan sensor, kamera serta laser pada mobil.

"Sekarang kamu bisa membayangkan bukan seberapa kompleks teknologi otonom itu," ucapnya lagi setengah bercanda.

(Penjabaran lebih lanjut mengenai teknologi otonom BMW sempat dirangkum dalam sebuah video singkat yang bisa dibaca di sini)