Mobil Hybrid Harapan Honda untuk Hadapi Krisis Besar Sejak 70 Tahun
·waktu baca 3 menit

Honda Motor Corporation belum lama ini memperkenalkan dua model purwarupa secara global untuk pertama kalinya. Namun seremoni itu bukan sekadar perilisan calon mobil baru pabrikan ke depannya, melainkan jadi sinyal arah baru perusahaan selanjutnya.
Lewat siaran resmi Honda, dua model tersebut mengusung teknologi elektrifikasi jenis hybrid electric vehicle (HEV). Satu berupa Honda Hybrid Sedan Prototype dan lainnya adalah Acura Hybrid SUV Prototype.
"Mulai 2027, Honda akan meluncurkan generasi penerus dari lini hibrida yang sudah tersemat sistem dan rancang bangun terbaru. Honda berencana meluncurkan 15 model hibrida terbaru secara global hingga tahun fiskal pada 31 Maret 2030," tulis Honda.
Dibanding dengan jajaran produk elektrifikasi Honda saat ini atau dengan HEV lain pada umumnya, jenama Jepang tersebut menjanjikan teknologi yang lebih hemat sebesar 10 persen dan ongkos produksinya dapat dipangkas hingga 30 persen.
Fokus lainnya adalah pengembangan teknologi Advanced Driver Assistant System (ADAS) yang lebih maju secepatnya pada 2028. Honda akan menempatkan pasar Amerika Utara sebagai tujuan utama pengembangan mobil hibridanya.
Bahkan tengah menyiapkan segmen baru lagi khusus untuk pasar tersebut, serta pengembangan teknologi baterai HEV bersama LG Energy Solution. Hingga saat ini, belum ada spesifikasi resmi maupun fitur terkait dua calon model hibrida Honda tersebut.
Honda alami kerugian tahunan perdana sejak 1957
Arah strategi pengembangan produk dan teknologi Honda secara global bukan tanpa alasan. Manuver itu merujuk pada catatan kerugian tahunan pertamanya dalam hampir 70 tahun sebagai perusahaan publik.
Perusahaan terbebani biaya restrukturisasi bisnis ke arah battery electric vehicle (BEV) lebih dari USD 9 miliar atau sekitar Rp 158,45 triliun (kurs Rp 17.606). Pada akhirnya, proyek target penjualan kendaraan listrik murni itu dibatalkan.
Kerugian ini sekaligus membuat laporan keuangannya paling buruk sejak Honda melantai di bursa saham pada 1957. Perusahaan menyoroti besarnya risiko strategi agresif di sektor kendaraan listrik bagi produsen otomotif sepuh, terutama ketika permintaan pasar tidak sekuat yang diperkirakan.
CEO Honda, Toshihiro Mibe mengatakan perusahaan membatalkan target menjadikan BEV dapat menyumbang seperlima penjualan produknya pada 2030 dan menghapus rencana beralih sepenuhnya ke BEV pada 2040.
Honda bergantung pada bisnis sepeda motor yang hingga kini masih menguntungkan untuk mendulang arus kas dan mendukung imbal hasil bagi pemegang saham, di tengah bisnis otomotif yang masih tertinggal dari sisi skala dan eksekusi.
Kerugian operasional Honda tercatat sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar USD 2,63 miliar secara tahunan yang berakhir pada Maret 2026. Angka ini lebih buruk dibanding estimasi median kerugian sebesar 315,6 miliar yen berdasarkan survei terhadap 22 analis oleh LSEG, serta berbanding terbalik dengan laba 1,2 triliun yen pada tahun sebelumnya.
Honda membukukan total kerugian akibat proyek BEV sebesar 1,45 triliun yen pada tahun fiskal yang berakhir Maret dan memperkirakan tambahan biaya sebesar 500 miliar yen pada tahun fiskal yang baru dimulai.
Kendati demikian, perusahaan memperkirakan akan kembali mencetak laba tahun ini, dengan proyeksi keuntungan sebesar 500 miliar yen yang ditopang langkah efisiensi biaya serta bisnis sepeda motor yang masih menguntungkan.
“Bisnis sepeda motor akan memperluas kapasitas produksi di India dan menargetkan penjualan tertinggi sepanjang sejarah sebesar 22,8 juta unit,” kata Honda dalam laporan keuangannya.
