Mobil Hybrid Tak Dianggap Kendaraan Listrik, Bos Toyota Protes Pemerintah Jepang

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda Foto: Haikal Pasya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda Foto: Haikal Pasya/kumparan

Sebuah kontroversi bergejolak di Jepang setelah orang nomor satu Toyota Motor, Akio Toyoda mendesak pemerintah Jepang untuk menempatkan mobil hybrid sama dengan kendaraan listrik berbasis baterai lainnya.

Protes yang dilayangkan tersebut pada akhirnya mendorong pemerintah Jepang untuk mengubah isi dari kebijakan yang membuat mobil hybrid setara dengan kendaraan listrik berbasis baterai. Meski, sejumlah pengamat lingkungan menilai keduanya terdapat perbedaan yang besar.

Melansir dari asiafinancial.com, industri manufaktur otomotif Jepang, terlebih untuk Toyota, beberapa waktu terakhir dilanda tekanan besar dari berbagai aktivis lingkungan dan investor ‘hijau’ yang menganggap pemerintah Jepang lamban mengajak pelaku industri di sana untuk melobi dan beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai.

Mantan Menteri Industri Jepang sekaligus politikus Partai Demokrat Liberal Jepang, Akira Amari diketahui telah menemui Toyoda secara langsung. Kemudian, ia juga meminta kepada pemerintah Jepang untuk mengubah roadmap kebijakan ekonomi tahunan pada 3 Juni lalu.

Toyoda yang juga menjabat sebagai Ketua Lobi Asosiasi Produsen Mobil Jepang (JAMA), menurut pengakuan Amari, menyebutkan bahwa JAMA tidak dapat mendukung kebijakan pemerintah Jepang yang menolak teknologi hybrid dan menuntut untuk membuat kebijakan yang jelas.

Deretan mobil hybrid Toyota Indonesia. Foto: dok. Istimewa

Amari juga meminta untuk menambahkan kata ‘apa yang disebut’ pada referensi kata ‘kendaraan bertenaga listrik’. Sebab, menurut Toyoda kendaraan elektrifikasi tidak sebatas pada kendaraan listrik berbasis baterai saja, tetapi termasuk kendaraan hybrid.

Karena kendaraan hybrid juga dapat dikembangkan lebih jauh, misalnya dengan menggunakan bahan bakar sintetik, seperti hidrogen, akan menjadikan mobil hybrid sebagai kendaraan 100 persen penggunaan energi bersih.

“Apa yang coba disampaikan oleh Toyoda adalah teknologi hybrid dengan bahan bakar sintetik sangat baik untuk lingkungan karena mereka memiliki efisiensi penggunaan bahan bakar yang sangat tinggi. Dia berujar akan sangat tidak puas bagi dirinya jika hibrida ditolak, begitu yang ia sampaikan kepada saya,” ujar Amari.

Pengembangan bahan bakar sintetik pada industri manufaktur, Amari menambahkan, dapat melahirkan mesin pembakar internal dengan nihil emisi. Ini tentunya juga menguntungkan untuk industri penerbangan, yang mana penggunaan baterai sangat tidak mungkin pada pesawat terbang.

JAMA juga mengatakan, industri otomotif di Jepang tengah berupaya menuju target netral karbon pada tahun 2050. Targetnya netral karbon, yang berarti penting untuk mengembangkan teknologi alternatif lainnya dan bukannya hanya terpaku pada satu teknologi tertentu saja.