Mobil Hyundai Aman Tenggak Pertamax Green 95?
·waktu baca 3 menit

Head of Marketing Department PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Astrid Ariani Wijana menanggapi soal kesiapan produknya untuk menggunakan bahan bakar campuran bioetanol (E5) dari Pertamina yang diberi nama Pertamax Green 95.
“Untuk itu kami akan coba cek dengan tim terkait karena mekanisme bioetanol otomatis kita perlu tahu juga apa saja yang jadi formulasi dan melihat dari kesiapan kendaraan karena masing-masing punya spesifikasi mesin berbeda,” ujar Astrid kepada kumparan saat sela peluncuran Hyundai Stargazer Essential di Jakarta beberapa waktu lalu.
Senada dengan Astrid, Product Expert PT HMID Bonar Pakpahan menambahkan, hingga saat ini dirinya masih enggan berkomentar lebih jauh dan lebih memilih menunggu implementasi bahan bakar bioetanol tersebut direalisasikan.
“Soal itu kita menunggu pemerintah ketika benar-benar sudah mengumumkan secara resmi mengenai penggunaan bioetanol. Jadi sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut, kami belum bisa berkomentar banyak,” jelasnya ditemui di tempat yang sama.
Namun, Bonar menyebut, pihaknya bakal mendalami dan melakukan kajian lebih lanjut soal bioetanol yang akan digunakan pada mobil-mobil Hyundai yang dijual di Indonesia.
“Tapi kajiannya seperti apa itu kan nanti di internal, ya. Kita pasti pun akan membina komunikasi dengan pemerintah secara lebih intens soal implementasi bahan bakar tersebut,” pungkasnya.
Beberapa waktu lalu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program bioetanol sebagai campuran BBM akan dikembangkan secara masif. Sebab Indonesia memiliki lahan luas untuk perkebunan tebu.
Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan, pengembangan bioetanol sebentar lagi memasuki tahapan pilot project untuk menghitung kualitas bahan bakar yang dihasilkan dan nilai keekonomiannya.
"Pengembangan bahan bakar nabati yang renewable dan terbukti dapat meningkatkan perekonomian rakyat kecil. Ini sesuatu yang bagus dan sudah ada contohnya di beberapa negara tropis seperti di Brasil," katanya melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (16/7).
Arifin menambahkan, pengembangan jenis bahan bakar baru ramah lingkungan harus melalui serangkaian tahapan dan pengujian agar dipastikan layak digunakan masyarakat, serta bisa diproduksi secara massal.
Pertamax Green 95 resmi diluncurkan
Adapun peresmiannya telah dimulai hari Senin (24/7/2023), dengan nama Pertamax Green 95. Sesuai namanya, produk BBM baru ini memiliki oktan (RON) 95.
Salah satu SPBU yang menjual Pertamax Green 95 adalah SPBU MT Haryono Jakarta. Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan mengatakan Pertamax Green juga dilakukan serempak di Jakarta dan Surabaya.
Total ada 15 SPBU, 10 di Surabaya dan 5 di Jakarta. Sementara lima titik SPBU di Jakarta semuanya di Jakarta Selatan, SPBU tersebut yakni SPBU berkode 3112802, 3112402, 3112601, 3112401, dan kode SPBU 3112204.
Adapun sepuluh titik SPBU di Surabaya yakni di Jemursari, Sutomo, Mulyosari, Merr, Ketintang, Karang Asem, Mastrip, Citra Raya Boulevard, Juanda, dan Buduran.
Riva juga enggan menyebut harga yang akan dipatok Pertamina. Namun, Mantan Wakil Menteri BUMN I Pahala Mansury membocorkan harganya sekitar Rp 13.200.
“(Harga) Sudah ada, mungkin kurang lebih di kisaran Rp 13.200 (per liter). Insyaallah di kisaran segitu,” imbuh Pahala saat ditemui di Hutan Kota Plataran Jakarta, Senin (3/7).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan standar mutu atau spesifikasi campuran BBM dengan bioetanol 5 persen (E5) Pertamax Green 95.
Spesifikasi BBM E5 ini tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal (Kepdirjen) Minyak dan Gas Bumi Nomor 252.K/HK.02/DJM/2023 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin (Gasoline) RON 95 dengan Campuran Bioetanol 5 persen (E5) yang Dipasarkan di Dalam Negeri.
***
