Mobil Jarang Dipakai, Ini 2 Kondisi yang Bisa Terjadi Pada Ban

Mobil yang jarang digunakan apalagi selama pandemi karena anjuran #dirumahaja, perlu dicek kondisi bannya. Sebab Section Head Service Training Department Astra Daihatsu Motor (ADM), Aji Prima mengatakan, ada dua kemungkinan yang akan terjadi.
Pertama akan muncul flat spot atau bidang datar pada ban. Permukaan ban yang seharusnya melengkung, tapi karena terlalu lama menahan bobot mobil tanpa berpindah, area ban yang menyangga tadi menjadi rata.
Kemunculannya tidak dapat diprediksi, untuk itu pemilik mobil harus bisa mencegahnya.
"Permukaan ban berubah bentuknya, terlihat seakan-akan seperti kempes. Bila dibiarkan efek yang terjadi adalah getaran vertikal atas bawah, sehingga mengganggu kenyamanan," terang Aji dalam Daihatsu Virtual Training belum lama ini.
Solusi mengurangi dampak flat spot cukup menjalankan mobil, supaya area penahan bobot mobil berpindah. "Minimal sekali dalam seminggu, jadi roda berputar dan flat spot akan hilang, karena lapisan baja pada ban mobil akan kembali seperti semula," terang Aji.
Apabila cara tadi tidak berhasil, artinya flat spot tak bisa diatasi. Sebab sudah ada perubahan bentuk lapisan baja yang sulit diubah lagi secara alami. Sebaiknya bisa ganti dengan yang baru.
Jalan keluar lain bagi Anda yang mager keluarin mobil, mungkin karena kerjaan, atau hal lain, bisa gunakan piranti aftermarket flat stoppers. Wadah ban mobil yang bisa mengikuti kontur ban.
Ban botak pada sisi terluarnya
Kedua, seiring dengan berkurangnya kadar angin ban melalui pori-pori, karena tidak dipakai tekanannya ikut menurun. Otomatis permukaan ban yang menapak ke permukaan jalan akan lebih banyak.
Saat digunakan yang terjadi selanjutnya adalah friksi semakin besar, kemudian terjadi peningkatan temperatur ban, dilanjut keausan yang prematur, sampai ban meledak. Lalu kenapa hanya sisi sampingnya yang botak?
Ban yang kurang angin kondisi fisiknya seperti ban kempis. Dinding ban mobil penumpang yang dibuat elastis, selama kekurangan udara yang ikut menopang bobot, akan melengkung dan menekuk, sehingga bagian samping permukaan ban lebih banyak yang menempel dan bergesekan ke jalan.
Lalu bagaimana mengatasinya? Sebelum keausan ban makin parah, tambahkan tekanan angin sesuai anjuran pabrikan. Idealnya jaga volume udara tidak kurang atau lebih. Jika lebih malah mengakibatkan ban botak di sisi tengah.
Tak cuma itu, Aji menyarankan untuk merotasi ban secara berkala. Minimal ikuti anjuran buku servis, setiap 10 ribu km sekali. "Rotasi ban termasuk ban serep supaya tingkat keausannya bisa sama, ini dilakukan untuk kenyamanan dan keamanan," terangnya.
