Mobil Listrik Sering Dicas Fast Charging, Umur Baterai Cepat Berkurang?

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengemudi saat melakukan pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pengemudi saat melakukan pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Sama seperti gawai masa kini, pada kendaraan elektrik seperti mobil listrik dikenal juga dengan pembagian istilah pengisian daya berdasarkan arus listrik yang dikeluarkan. Ada Normal Charging, Fast Charging, hingga Ultra Fast Charging.

Jenis Normal Charging umumnya memiliki arus listrik AC keluar yang terbilang kecil yakni sebesar 2-7 kW. Makanya, ia lebih sering dijumpai pada modul pengecasan daya yang terpasang di rumah seperti home charger dan sebagainya.

Berbeda dengan Fast Charging atau Ultra Fast Charger yang punya keluaran daya jauh lebih besar, umumnya antara 7-22 kW untuk Fast Charging dengan arus AC dan 25-150 kW untuk Ultra Fast Charging dengan jenis arus DC.

Kedua jenis pengecasan tersebut sangat umum dijumpai di SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) karena kemampuan mengisi daya listrik ke mobil dengan cepat. Namun, ternyata ada hal yang harus diperhatikan bila sering memanfaatkan fasilitas ini.

Pengecasan mobil listrik Wuling Air ev di SPKLU Puspiptek, Serpong. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Product Planning Wuling Motors Danang Wiratmoko menjelaskan, baterai mobil listrik berbasis lithium yang daya listriknya bisa diisi ulang dengan arus cepat dapat mempengaruhi kondisi atau kinerja baterai itu sendiri dalam kurun beberapa tahun ke depan.

"Jangankan (mobil) listrik, barang elektronik lain pun kalau namanya fast charging intinya kita memasukkan muatan daya listrik besar dari sumber ke baterai dalam waktu yang cepat, itu ada konsekuensi natural suhu menjadi lebih tinggi," buka Danang ditemui di Jakarta belum lama ini.

Bila menjadi sebuah kebiasaan bagi pemilik mobil listrik yang lebih sering memilih mengisi daya cepat di tempat umum dengan fasilitas fast/ultra fast charging daripada mengisi di rumah, ia bilang risiko penurunan kinerja dan umur baterai mobil listrik akan semakin besar.

"Betul, tetapi itu sebenarnya bisa dimitigasi oleh pabrikan dengan cara menetapkan temperature regulation. Masing-masing pabrikan pasti sudah punya sistem yang ditanamkan di pengaturan regulasi temperatur baterai agar kenaikan suhu drastis bisa diminimalisasi," terang Danang.

Ilustrasi pengecasan mobil listrik jenis home charger. Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Ada dua jenis regulator suhu baterai menurut paparan Danang, pertama secara elektronik dan kemudian berjenis cairan yang pengaturannya melalui komputer (electronic control unit) secara cerdas.

"Baterai mobil listrik Wuling sendiri sudah ada temperature regulation, itu sudah menyatu dengan sistem manajemen baterainya. Itu dari segi produk, tapi dari aspek kebiasaan ada cara lain agar umur baterai ini bisa panjang," tambahnya.

Danang bilang, salah satunya dengan menerapkan kebiasaan mengisi daya mobil listrik di rumah alias melalui perangkat home charger yang memiliki arus daya keluar rendah. Sementara fitur fast/ultra fast charging bisa dimanfaatkan bila kondisi baterai sudah tersisa sangat sedikit atau hampir habis di tempat umum.

"Itulah kenapa infrastruktur home charger jadi suatu kampanye dari Wuling di Indonesia. Kita ingin konsumen selain merasa nyaman dan mudah melakukan pengecasan di rumah, tapi juga membentuk kebiasaan normal dan sehat untuk mobil listriknya," pungkasnya.

***