Mudik Naik Motor, Lebih Aman Pergi Malam atau Siang Hari?

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pemudik Motor padati Posko Mudik di Subang Foto: Reki Febrian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pemudik Motor padati Posko Mudik di Subang Foto: Reki Febrian/kumparan

Mudik menggunakan sepeda motor masih menjadi pilihan bagi sebagian orang, selain karena biaya perjalanan yang murah, menggunakan motor juga dinilai lebih fleksibel soal waktu.

Pun dengan pemilihan waktu perjalanan, ada anggapan jika berkendara pada malam hari jauh lebih baik karena tidak harus sambil berpuasa jika dibandingkan harus berkendara pada siang hari. Namun, manakah sebenarnya yang lebih baik, berkendara pada siang hari atau malam hari?

Menjawab hal tersebut, Director Training Safety Defensive Consultant (SDCI) Sony Susmana mengatakan itu semua kembali kepada si pengendara masing-masing karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

“Kembali kepada kemampuan rider. Ada yang mampu berkendara pada malam hari. Waktu malam memang bebas puasa, tetapi disisi lain pada malam hari itu waktunya beristirahat,” ujar Sony kepada kumparan belum lama ini.

Pemudik sepeda motor melintasi Jalan Kalimalang, Kabupaten Bekasi, sebelum larangan mudik. Foto: Dok. Istimewa

Meski begitu, Sony berujar, ada beberapa faktor yang menjadi alasan mengapa berkendara pada malam hari kurang bersahabat untuk pengendara sepeda motor.

“Selain waktunya tubuh untuk beristirahat, malam hari itu juga lebih rawan kejahatan,” imbuhnya.

Soal keterbatasan visibilitas pada malam hari jadi persoalan lainnya, misalnya pandangan pengendara lain yang belum tentu baik sehingga berpotensi terjadinya tabrakan, lalu banyaknya kendaraan berat beroperasi pada malam hari yang tidak disertai lampu memadai, atau tidak semua jalan memiliki rambu dan marka yang lengkap.

Waktu perjalanan yang ideal

Pemudik motor melintasi Jalan Nagreg. Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Sony membagikan kiat mengenai waktu yang ideal berkendara jarak jauh dengan menggunakan sepeda motor, terutama saat bulan puasa.

“Kalau saya memilih berangkat subuh hari, agar siangnya dapat mengambil istirahat di tengah perjalanan, setelah itu menjelang waktu sore kembali melanjutkan perjalanan,” terangnya.

Memulai perjalanan pada waktu subuh, menurut Sony, dinilai ideal karena kondisi tubuh yang jauh lebih fit selepas tidur malam.

“Minimal tidur malam 7 jam sebelumnya, berdasarkan siklus tubuh kondisi tubuh yang fit itu ada di subuh sampai jam 10 pagi,” pungkasnya.

Jadi, sebaiknya gunakanlah waktu malam hari untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan kembali pada keesokan harinya.

Selain itu, pada saat perjalanan siang hari, Sony juga mengimbau pentingnya mengambil waktu istirahat sejenak untuk mengembalikan energi dan stamina.

Petugas kepolisian menertibkan pemudik motor yang berhenti di pinggir ruas jalan setelah diputar balik di jalur pantura Karawang, Jawa Barat, Senin (10/5). Foto: M Ibnu Chazar/ANTARA FOTO

“Berkendara sepeda motor maksimal dilakukan 2,5 jam, setelah itu ambil waktu untuk beristirahat selama 20 sampai 30 menit,” paparnya.

Untuk memulihkan energi yang terbuang, bisa melakukan berbagai gerakan ringan atau stretching untuk relaksasi otot, melakukan interaksi dengan orang lain untuk relaksasi syaraf, atau mediasi dan tidur untuk otak.

Sebagai tambahan, agar kinerja tubuh saat mengendarai sepeda motor menjadi tidak berat, perhatikan juga barang-barang yang dibawa.

“Untuk barang bawaan perhatikan dimensinya jangan sampai lebih tinggi dari bahu pengendara, lebih lebar dari setang motor, dan bobotnya jangan melebihi dari 70 kg,” tutur Sony.