Mudik Pakai Motor, Hindari Berangkat pada Malam Hari

Kendaraan roda dua masih menjadi moda transportasi alternatif pemudik untuk pulang ke kampung halaman. Meski tidak dianjurkan, para penggunanya kerap memilih motor karena alasan murah dan fleksibel.
Soal waktu perjalanan, tidak sedikit dari mereka yang memilih perjalanan pada malam hari karena lebih adem dibanding berkelana pada siang hari.
Menanggapi hal ini, pendiri sekaligus instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menjelaskan apabila terpaksa menggunakan motor sebaiknya hindari perjalanan pada malam hari.
"Tidak direkomendasikan mengendarai jarak jauh saat malam, 70 persen lebih kematian dan kecelakaan tahun lalu kontributornya pengendara motor. Kalau itu semacam ritual tiap tahun maka hindari mengendarai saat di malam hari," ujarnya saat dihubungi kumparanOTO, Senin (28/5).
Menurutnya ada beberapa faktor yang mengharuskan pengendaranya tidak melakukan perjalanan pada malam hari. Seperti kondisi tubuh yang kontradiktif dengan waktu biologis juga alasan utama jarak pandang yang terbatas, sehingga jangkauan mata akan sedikit melihat objek yang ada di depan dan sekelilingnya.

"Karena jam biologis tubuh manusia kontra produktif, selain itu visibilitas juga berkurang, terlebih ada faktor lain tidak semua pengguna jalan raya tidak memiliki lampu yang laik serta kondisi infrastruktur seperti tidak semua jalan tertutupi aspal," tambah Jusri.
Adapun yang paling penting adalah menghindari highway hypnosis atau biasa disebut dengan Driving Without Attention Mode (DWAM). Istilah tersebut merujuk pada kondisi mengemudi kendaraan dalam setengah otak fokus mengemudi sementara setengahnya lagi memikirkan hal lain.
Highway hypnosis disebabkan oleh kondisi tubuh pengemudi yang menurun dan kondisi lingkungan yang sepi, sehingga pengemudi hanya mendapat sedikit stimulasi untuk mengoptimalkan inderanya, seperti saat pengendara terlalu fokus melihat marka berupa garis di tengah jalan untuk beberapa waktu, hingga tanpa disadari kecepatan kendaraan sudah terlampau tinggi atau kondisi lain tidak menyadari mendekati kendaraan di depan.

"Itu kaitannya dengan jam biologis tubuh dan siklusnya, karena saat malam hari manusia diciptakan untuk istirahat, sehingga yang terjadi oksigen berkurang, umumnya kondisi fisik menurun diikuti jangkauan visibilitas yang menurun,"
Meski sudah mematuhi segala aturan dan mengenakan kelengkapan berkendara, Jusri mengatakan hal tersebut bukan tolak ukur untuk mencapai keselamatan di jalan raya, pasalnya ada pengguna jalan lain yang kadang mengabaikan aspek keselamatan.
"Untuk itu perlu diantisipasi berkendara pada malam hari, ingat ketaatan tidak menjamin selamat karena di jalan bukan Anda sendiri. Kecelakaan bisa dari pengguna jalan yang tidak tertib, lalai, capek, maka perlu antisipasi kesalahan orang lain," tutur Jusri lebih lanjut.
