Negara Berkembang Berpotensi Jadi Tujuan Ekspor Mobil Konvensional Bekas
·waktu baca 2 menit

Negara berkembang berpotensi jadi ladang pembuangan mobil konvensional bekas atau bermesin bakar internal (ICE), dari negara-negara yang lebih pesat dan maju dalam menerapkan kebijakan kendaraan listrik.
Studi dari Carbon Tracker dalam laporannya bertajuk Driving Change: How Electric Vehicles can rise in the Global South menjabarkan, negara-negara berkembang yang mayoritas berada di selatan bumi, saat ini masih menjadi konsumen mobil ICE baru dan bekas terbesar di dunia.
Negara yang berada di wilayah selatan itu mayoritas berasal dari benua Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Artinya Indonesia masih terhitung masuk dalam radar.
Sedangkan negara-negara yang maju lebih cepat mengkonsumsi mobil elektrifikasi termasuk listrik murni (BEV) dan hybrid terjadi paling banyak di bumi belahan utara. Ini karena pembelian mobil baru juga relatif lebih cepat di negara wilayah utara.
Belum lagi masifnya kebijakan pembatasan penjualan kendaraan atau mobil konvensional di negara maju. Muncul kekhawatiran produsen kendaraan global akan mulai mengarahkan produk ICE-nya ke negara-negara berkembang.
Akibatnya, banyak negara di wilayah bumi selatan ini nantinya akan semakin ketergantungan dengan bahan bakar fosil dan semakin memperlambat transisi menuju alat transportasi yang bebas emisi. Apalagi, kebijakan pembatasan kendaraan konvensional dinilai masih longgar.
Dalam jangka waktu pendek, beberapa negara di wilayah selatan bumi seperti di benua Afrika akan semakin banyak mengimpor mobil ICE bekas dari negara maju, karena adanya peralihan sepenuhnya ke BEV.
Menurut lembaga studi itu juga, peralihan ke BEV dapat menguntungkan keuangan dan ekonomi negara-negara berkembang tersebut. Namun, saat ini ada beberapa tantangan yang sedang dihadapi.
Pertama, diperlukan lingkungan kebijakan yang kondusif untuk memungkinkan penerapan BEV secara luas. Tindakan kebijakan tersebut mencakup kebijakan emisi untuk menghentikan penjualan kendaraan ICE, baik baru maupun bekas.
Serta strategi industri yang komprehensif untuk memfasilitasi keterlibatan dalam rantai nilai dan infrastruktur BEV, termasuk insentif untuk produksi dan penjualan BEV dalam negeri.
***
