Nyetir Hyundai IONIQ 5 Jakarta-Bandung PP Cuma Habis Rp 121 Ribu
·waktu baca 8 menit

Mobil listrik Hyundai IONIQ 5 sukses mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Ini terbukti dari angka surat pemesanan kendaraannya yang sudah mencapai 2.300 unit hingga Senin (20/6).
Desainnya yang ikonik dan futuristik, fitur canggih yang berlimpah, serta jarak tempuh baterainya yang mencapai 481 kilometer jadi beberapa alasan orang memilih mobil listrik ini.
Sayangnya, kendati punya tampilan unik dan futuristik serta fitur canggih yang berlimpah, banyak masyarakat yang masih khawatir terkait kemampuan daya baterainya ketika dipakai bepergian jarak jauh.
Mereka khawatir mobil akan mengalami kehabisan daya ketika di tengah perjalanan. Apalagi, saat ini ketersediaan SPKLU di beberapa daerah terbilang masih minim.
Nah untuk membuktikan hal itu, kumparanOTO pun mendapatkan kesempatan untuk menjajal Hyundai IONIQ 5 dalam acara Media Test Drive Hyundai IONIQ 5 yang diselenggarakan oleh PT Hyundai Motors Indonesia atau HMID pada Senin 20 Juni 2022 hingga Selasa 21 Juni 2022.
Di sini saya bersama rekan media lainnya akan menempuh perjalanan sekitar 360 kilometer dari Senayan Park Jakarta menuju Cikole Bandung dan kembali ke Senayan Park Jakarta.
Ingin tahu seperti apa ulasan saya dalam mengemudikan mobil listrik Hyundai IONIQ 5 tersebut? Berikut selengkapnya.
Akomodasi
Sebelum membahas aspek teknis dan kemampuan jarak tempuh baterainya, saya akan membahas terlebih dahulu aspek akomodasi dari mobil ini. Sebagai sebuah mobil crossover atau SUV kompak, IONIQ 5 punya akomodasi yang sangat baik.
Pada bagian bagasi misalnya, mobil ini memiliki ruang bagasi yang lapang. Meskipun memang bagasinya tidak terlalu tinggi dikarenakan bentuk pintu bagasinya yang cenderung landai seperti mobil fastback.
Lalu pada bagian dalamnya, mobil ini juga memiliki kelapangan kabin yang luar biasa, khususnya pada baris kedua. Tidak adanya tunnel pada bagian tengah, membuat ruang kaki di baris kedua menjadi sangat lapang. Apalagi hadirnya panoramic roof di bagian atap, menambah kesan lapang dari mobil ini.
Belum cukup sampai di situ, mobil ini juga memiliki banyak ruang penyimpanan. Mulai dari ruang penyimpanan tertutup, terbuka, hingga cupholder. Ini benar-benar memudahkan saya ketika hendak meletakkan berbagai barang kecil di dalam mobil.
Secara keseluruhan, saya cukup menyukai desain interior mobil ini yang sederhana namun modern serta kelapangan kabinnya yang sangat memanjakan.
Fitur
Selain punya kabin lapang, keunggulan lain yang ditawarkan IONIQ 5 tentu menyoal ragam fitur canggih yang dimilikinya. Baik itu fitur kenyamanan, hiburan, maupun fitur keselamatan dan bantuan mengemudi.
Dalam hal fitur kenyamanan, Hyundai IONIQ 5 patut diacungi jempol. Sebab, sangat banyak fitur-fitur keren nan canggih yang tersemat pada bagian dalam mobil ini. Mulai dari pengaturan kursi otomatis yang dapat diatur secara elektrik hingga pengaturan mode relaksasi yang akan membuat posisi jok penumpang atau pengemudi menjadi sangat rebah.
Tidak hanya itu, tersedia juga fitur ventilated seats, pengaturan AC dual zone, wireless charging, panoramic roof, dan lainnya.
Lalu dalam hal fitur hiburan, IONIQ 5 sudah dilengkapi dengan audio premium dari Bose. Hasilnya, kualitas suara yang dihasilkan mobil ini memang cukup merdu dan baik meskipun bukan yang terbaik.
Pun untuk konektivitasnya juga sangat mumpuni. Sebab, pengemudi dan penumpang dapat dengan mudah mengkoneksikan smartphone kesayangan dengan head unit melalui bluetooth, Android Auto, dan Apple CarPlay.
Berikutnya untuk urusan fitur keselamatan dan bantuan mengemudi, ini menjadi salah satu aspek yang sangat menarik dari mobil ini. Ini dikarenakan Hyundai IONIQ 5 sudah dibekali dengan berbagai fitur keselamatan aktif.
Dari berbagai fitur keselamatan aktif yang ada, setidaknya ada 8 fitur yang sering saya manfaatkan ketika mengemudikan mobil listrik ini. Pertama ada fitur Smart Cruise Control yang benar-benar sangat memanjakan saya ketika mengemudi dalam kondisi lancar maupun macet.
Dengan kemampuannya yang sudah Adaptive Cruise Control atau menyesuaikan kecepatan mobil dengan kecepatan kendaraan di depannya, membuat pengemudi jadi tidak perlu repot menginjak pedal akselerator dan pedal rem.
Cukup dengan menyetel kecepatan yang diinginkan, maka laju mobil akan menyesuaikan dengan kecepatan yang telah disetel itu. Selanjutnya, kecepatan mobil akan menyesuaikan dengan kecepatan kendaraan lain yang berada di depannya.
Apabila kecepatan kendaraan di depannya melambat bahkan berhenti, maka sistem akan memerintahkan mobil untuk melambat dan berhenti juga. Pun ketika kendaraan di depannya bergerak maju, sistem akan meminta pengemudi untuk cukup menyentuh pedal akselerator atau menekan tombol smart cruise control.
Pada penggunaan fitur ini, fitur lain seperti Forward Collision Avoidance Assist juga akan ikut bekerja untuk menghentikan laju kendaraan apabila terdeteksi mobil akan menabrak objek lain yang ada di depannya.
Selanjutnya ada fitur Lane Keeping Assist yang menjadi kesatuan dengan fitur Lane Following Assist. Kehadiran fitur ini juga sangat membantu saya untuk tetap menjaga laju mobil agar berada di dalam jalur semestinya.
Saat sistem mendeteksi mobil akan keluar jalur, sistem secara otomatis akan memberikan peringatan suara dan getaran hingga mengoreksi kemudi tersebut dan mengembalikan ke posisi jalur yang benar.
Fitur berikutnya yang juga sangat membantu selama berkendara, yaitu fitur Blind Spot Collision Avoidance Assist dan fitur Blind Spot View Monitoring. Kedua fitur ini benar-benar membantu saya ketika hendak berpindah jalur.
Sistem akan memberikan peringatan secara otomatis manakala sistem mendeteksi ada kendaraan di belakang yang mendekat ketika mobil hendak berpindah jalur. Fitur lain yang juga tak kalah membantu, yakni fitur Surround View Monitor atau kamera parkir 360 derajat.
Kehadiran fitur surround view monitor ini, sangat membantu pengemudi ketika hendak parkir atau melintas jalan yang sempit. Pilihan pandangan kamera yang beragam dan jernih membuat pengemudi tak kesulitan ketika hendak parkir atau melalui jalan sempit.
Hal yang saya sukai dari surround view monitor IONIQ 5 ini yaitu gambarnya yang sangat jernih dan tetap terang meskipun kondisi di luar minim cahaya.
Terakhir fitur yang cukup sering saya gunakan selama mengemudikan mobil ini, yaitu fitur i-Pedal. Dengan mengaktifkan fitur ini, saya dapat mengendalikan laju mobil dan memperlambatnya hingga berhenti hanya dengan 1 pedal.
Ya, saat fitur ini diaktifkan maka begitu kaki kanan diangkat dari pedal akselerator, sistem secara otomatis akan melakukan pengereman secara perlahan. Ketika deselerasi dan pengereman tersebut dilakukan, sistem juga akan melakukan regenerative braking atau memanfaatkan energi kinetik untuk mengisi daya baterai.
Fitur i-Pedal ini cukup sering saya gunakan terutama ketika kondisi macet atau stop and go seperti saat terjebak macet di tol Dalam Kota, tol Cipularang, dan di kawasan Lembang, Bandung.
Tenaga dan torsi yang mumpuni
Hal menarik lain yang dimiliki oleh IONIQ 5 ini tentu adalah soal dapur pacunya. Ya, berbekal motor listrik yang mampu memuntahkan tenaga 215 dk dan torsi maksimum hingga 350 Nm, membuat mobil ini sangat asik untuk diajak berakselerasi.
Ketika melintasi jalan tol Cipularang, mobil listrik ini nyaris tak mengalami kesulitan saat menanjak di tanjakan yang panjang. Begitu juga ketika melintas kawasan Lembang, mobil hampir tak menemui masalah saat menanjak di tanjakan ekstrem.
Keunggulan tenaga dan torsi yang berlimpah juga saya rasakan ketika harus bermacet-macetan atau stop and go. Dengan torsinya yang besar, mobil dapat dengan mudah melaju.
Baterai cukup untuk Jakarta-Bandung PP
Terakhir yang menarik untuk dibahas dari mobil ini tentu menyoal kemampuan daya baterainya. Saat mengawali perjalanan dari Senayan Park, Jakarta Pusat, kapasitas baterai sekitar 97 persen dengan sisa jarak tempuh baterai 460 kilometer.
Lalu begitu tiba di Cikole Bandung, sisa baterai turun menjadi 53 persen dengan sisa jarak tempuh 238 kilometer. Pada perjalanan berangkat ini saya berkendara dengan normal, artinya mobil sesekali melaju sangat pelan akibat situasi lalu lintas, dan sesekali dipacu di kecepatan 100 hingga 110 km/jam.
Adapun untuk modus berkendara yang digunakan, yakni normal dan sesekali sempat mencoba modus sport. Lalu ketika hendak kembali ke Senayan, Jakarta, kapasitas baterai tersisa 51 persen dengan jarak tempuh 235 kilometer.
Sama seperti perjalanan berangkat, selama perjalanan pulang saya juga berkendara dengan gaya mengemudi kombinasi, yakni sesekali pelan dan sesekali berakselerasi. Menariknya, ketika masuk gerbang tol Pasteur, saat itu posisi kapasitas baterai tersisa 44 persen dan sempat turun menjadi 43 persen.
Namun, ketika menemui kemacetan di jalanan yang menurun di ruas tol Cipularang, kapasitas baterai justru bertambah menjadi kembali 45 persen. Adanya pertambahan kapasitas baterai ini menandakan kalau fitur regenerative braking dari IONIQ 5 sukses bekerja dengan baik.
Dan begitu tiba di Senayan Park kembali, kapasitas baterai pada IONIQ 5 tersisa 26 persen dengan jarak tempuh 120 kilometer. Pada layar instrumen terlihat mobil ini telah menempuh perjalanan sejauh 334,4 kilometer dan memiliki rata-rata konsumsi daya listrik sebesar 14,8 kW/100 Km atau 6,75 kW/1 Km.
Hanya habiskan biaya Rp 121 ribu
Bila dihitung terkait biaya yang dikeluarkan, maka biaya yang dikeluarkan untuk menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Cikole Bandung dan kembali ke Jakarta, yakni sebesar Rp 121.176.
Berikut rumus hitungannya.
Konsumsi rata-rata daya listrik per kWh: 6,75 kW/km
Total jarak tempuh Jakarta-Bandung-Jakarta : kemampuan daya per 1 kWh = kebutuhan daya listrik
334,4 km : 6,75 km = 49,5 kWh
Kebutuhan daya listrik x tarif dasar listrik = total biaya yang dikeluarkan
49,5 x Rp 2.446 (Acuan Tarif Dasar Listrik SPKLU)= Rp 121.176.
Pada hitungan di atas, saya mengacu pada besaran tarif dasar listrik di SPKLU. Besaran total biaya yang dikeluarkan itu, bisa jauh lebih murah apabila mobil listrik sudah diisi daya hingga penuh di rumah. Ingat, harga di atas belum termasuk ongkos tol, ya.
***
