Pakar: Gejolak Energi Global Dorong Industri Otomotif Nasional Menguat

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seremoni produksi perdana dan ekspor Toyota Yaris Cross di PT TMMIN, Selasa (13/6/2023). Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Seremoni produksi perdana dan ekspor Toyota Yaris Cross di PT TMMIN, Selasa (13/6/2023). Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan

Ketahanan energi global jadi sorotan di beberapa negara, tak terkecuali di Indonesia. Hal ini merupakan dampak dari krisis geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini masih tengah berlangsung.

Lantas apa pengaruhnya bagi industri otomotif nasional?

Pengamat Otomotif dan Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menilai Indonesia memiliki daya tahan yang relatif kuat dibanding negara lain di kawasan ASEAN. Menurutnya, Indonesia belum berada pada posisi rentan seperti negara lain yang masih andalkan energi murni dari luar.

“Kekuatan utama Indonesia dibanding banyak negara ASEAN lain ada pada kombinasi cadangan energi, kapasitas produksi domestik, dan ruang intervensi negara yang relatif kuat,” ujar Yannes kepada kumparan, Jumat (27/3/2026).

Yannes menambahkan, stok BBM nasional memang mengalami tekanan, tetapi masih memiliki buffer pengaman. Ini karena percepatan kebijakan untuk bahan bakar alternatif seperti biofuel dengan program B40 turut menjadi bantalan tambahan.

Fasilitas pabrik Suzuki di Indonesia. Foto: dok. Suzuki Indomobil Sales

“Kebijakan itu mampu menekan ketergantungan solar impor. Kemudian listrik negara dari PLN ditopang oleh kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara sehingga risiko krisis pasokan tidak secepat negara pengimpor energi murni,” katanya.

Ia menambahkan pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga energi. Kebijakan subsidi dinilai berperan penting agar lonjakan harga tidak langsung memicu kepanikan masyarakat maupun inflasi tinggi.

“Pemerintah juga masih mampu menahan gejolak harga lewat subsidi agar tidak langsung memicu panic buying,” ucap Yannes.

Sisi lain industri otomotif, Indonesia dikatakannya sudah memiliki fondasi awal menuju transisi energi. Hal itu terlihat dari pertumbuhan kendaraan listrik, investasi baterai berbasis nikel, serta hadirnya berbagai produsen global yang mulai membangun fasilitas produksi di Tanah Air.

Mobil listrik BYD di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan

Ia bahkan menilai krisis energi global justru dapat menjadi momentum reposisi strategis Indonesia. Ketika harga BBM meningkat, konsumen maupun operator armada akan semakin rasional dalam menghitung efisiensi kendaraan.

“BEV (Battery Electric Vehicle), hibrida, dan biofuel mendapatkan dorongan alami dari pasar saat harga energi naik. Ini tentunya memberi posisi tawar yang lebih baik bagi Indonesia dalam menghadapi guncangan energi regional,” jelas Yannes.

Yannes menegaskan, jika momentum ini diarahkan dengan kebijakan tepat, Indonesia berpeluang menjadi hub produksi kendaraan listrik berbasis nikel di ASEAN. Elektrifikasi kendaraan niaga, transportasi publik, hingga roda dua disebut bisa menjadi pengungkit utama industrialisasi hijau nasional lebih cepat.