Pasar Kendaraan Elektrifikasi Tembus 21 Persen, Mobil Listrik Kini Salip Hybrid

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Media test drive mobil listrik BYD Atto 1 rute Semarang-Solo-Yogyakarta. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Media test drive mobil listrik BYD Atto 1 rute Semarang-Solo-Yogyakarta. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Dalam kurun 5 tahun terakhir, penjualan segmen kendaraan elektrifikasi (xEV) di Indonesia meningkat drastis. Dahulu yang sulit tembus satu persen pangsa pasar otomotif domestik, kini bisa mencapai lebih dari 20 persen.

Menariknya, selama 5 tahun terakhir itu pula terjadi pergeseran preferensi jenis teknologi elektrifikasi yang meliputi listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) dan hibrida yang saat ini tersedia di pasaran, yakni hybrid electric vehicle (HEV) dan Plug-in HEV (PHEV).

Coba bedah data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, sepanjang 2025 saja, distribusi kendaraan elektrifikasi dari pabrik ke diler (wholesales) totalnya mencapai 175.144 unit. Artinya, mencakup 21,79 persen dari total pasar otomotif nasional sebanyak 803.687 unit.

Sangat jauh dibandingkan dengan 2020 silam, akumulasi penyaluran kendaraan jenis BEV, HEV, dan PHEV hanya 1.324 unit atau kontribusinya cuma 0,25 persen dari total penjualan domestik kala itu, 532.027 unit.

Perjalanan Toyota Veloz Hybrid EV Lintas Nusa sejauh 826 kilometer dari Bromo hingga Yogyakarta. Foto: Gesit Prayogi/kumparan

Pun dengan tahun berikutnya, sepanjang 2021 kelompok elektrifikasi ini baru bisa setor penjualan 3.205 unit, 0,36 persen dari seluruh penjualan kendaraan roda empat atau lebih waktu itu yang mencatatkan 887.202 unit.

Oke, agar lebih adil membandingkannya dengan data dua tahun terakhir, sebab periode 2020 dan 2021 adalah masa pemulihan setelah pandemi Covid-19 yang membuat seluruh sendi perekonomian terganggu. Utamanya soal keputusan dan daya beli masyarakat.

Sekarang ambil data tahun 2022 dan 2023 ketika penjualan kendaraan domestik kembali sentuh ke level satu juta unit. Penyerapan kendaraan elektrifikasi juga terbilang belum banyak, pangsa pasarnya masih di bawah 10 persen.

Ditambah pilihan model BEV dan HEV kala itu juga belum banyak seperti sekarang dan secara banderol relatif lebih mahal dibanding kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE). Dukungan insentif pun juga masih minim saat itu.

Mencoba mobil PHEV, Jaecoo J7 SHS (Super Hybrid System). Foto: Sena Pratama/kumparan

Selama 2022, untuk pertama kalinya market share xEV tembus 1,97 persen dengan level penjualan 20.681 unit dan 2023 angkanya meningkat menjadi 7,09 persen dengan level 71.358 unit. Masing-masing total pasar nasional waktu itu adalah 1.048.040 unit dan 1.005.802 unit.

Bahkan persentase pangsa pasar kendaraan elektrifikasi terus tumbuh pada 2024 dan 2025, meski total penjualan keseluruhan lebih rendah dibanding 2022 dan 2023. Disinyalir semakin derasnya merek dan model baru di tengah guyuran berbagai insentif untuk BEV.

Dua tahun lalu, penjualan kendaraan elektrifikasi adalah 103.227 unit alias 11,92 persen dari total yang berjumlah 865.723 unit. Sementara itu, selama 2025 meningkat menjadi 175.144 unit dengan market share 21,79 persen dari total 803.687 unit.

Bahkan, periode Januari hingga Juni 2026 ini saja perolehannya sudah mencapai 117.108 unit. Khusus tahun ini, kabar insentif untuk BEV bahkan masih simpang siur dan belum ada keputusan jelas agar bisa digelar kembali seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sejauh ini BEV masih memimpin dengan distribusi ke diler sebanyak 69.739 unit, diikuti HEV sejumlah 42.366 unit, dan PHEV 5.003 unit. Sementara total pasar domestik selama 5 bulan 2026 ini jumlahnya 436.564 unit.

Grafik penjualan kendaraan elektrifikasi (xEV) berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Foto: Olah visual ChatGPT

Dahulu hibrida, kini disalip BEV

Grafik penjualan kendaraan elektrifikasi (xEV) berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Foto: Olah visual ChatGPT

Seperti yang ditautkan pada paragraf ke-2 di atas, sejatinya yang menarik dari pertumbuhan pasar kendaraan elektrifikasi di dalam negeri adalah pergeseran minat dari jenis HEV menjadi mayoritas BEV.

Mulai dari 2020, penjualan HEV mendominasi segmen elektrifikasi dengan okupansi 0,22 persen dari total 0,25 persen. BEV? Hanya 0,02 persen dan tidak ada PHEV sama sekali. Pada 2021, HEV meraup 0,28 persen, BEV 0,08 persen, dan PHEV 0,01 persen dari total xEV 0,36 persen.

Pada 2022, menjadi momen ketika jenis HEV dan BEV dapat menyamakan kedudukan, masing-masing meraih pangsa pasar 0,99 persen dari total xEV 1,97 persen. Meski pada 2023 dan 2024 jenis hibrida kembali unggul dengan porsi 5,39 persen dan 6,92 persen.

Keadaan berbalik pada 2025 kemarin, segmen BEV untuk pertama kalinya menyalip dengan porsi 12,93 persen dibandingkan dengan HEV yang 8,20 persen dan PHEV 0,66 persen. Waktu itu juga komposisi xEV terhadap pasar nasional sedang tinggi-tingginya, yakni 21,79 persen.