Pemasangan Home Charger Mobil Listrik Melonjak, Naik 825 Kali Lipat sejak 2021

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Showcase home charging mobil listrik delegasi KTT G20 di Central Parking ITDC Bali, Jumat (25/3/2022). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Showcase home charging mobil listrik delegasi KTT G20 di Central Parking ITDC Bali, Jumat (25/3/2022). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Tren adopsi kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Seiring dengan hal tersebut, fasilitas pengisian daya mandiri di rumah (home charging) menjadi salah satu infrastruktur paling krusial yang tumbuh paling masif.

Berdasarkan data PLN per 30 Juli 2026, instalasi home charger terintegrasi di Indonesia telah menembus 96.060 unit, melonjak hingga 825 kali lipat dibandingkan tahun 2021.

Executive Vice President of Corporate Strategic Planning PT PLN (Persero), Abdan Hanif Satria, mengungkapkan bahwa pengisian daya kendaraan listrik di rumah sangat menguntungkan dari sisi operasional sistem kelistrikan PLN. Sebab, mayoritas pengguna melakukan pengisian daya pada malam hari saat beban puncak mereda.

"Ya sebetulnya karena secara beban itu kan orang-orang di rumah itu kan ngecas itu malam, ya. Itu malah sebetulnya bagus dari sisi pembebanan PLN, karena mereka ngecas ketika beban di sistem PLN itu rendah. Jadi dari sisi operasi itu bagus," ujar Hanif saat ditemui di International Battery Summit 2026 di JIEXpo Kemayoran, Kamis (27/8/2026).

Showcase home charging mobil listrik delegasi KTT G20 di Central Parking ITDC Bali, Jumat (25/3/2022). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Meski demikian, Hanif tidak menampik adanya tantangan utama yang dihadapi konsumen, yakni terkait biaya awal penyambungan daya baru di rumah.

"Paling tantangannya adalah kemarin tentang pembiayaan untuk penyambungan itu. Karena buat PLN, itu kan akan memasang meter baru tuh di rumah, itu yang standar adalah 7.700 VA. Nah, itu lumayan sebenarnya kalau enggak pakai program dari PLN, itu biaya penyambungannya lumayan," jelasnya.

Terkait besaran biayanya, Hanif merincikan bahwa estimasi biaya yang dibutuhkan berkisar di angka jutaan rupiah, tergantung pada lokasi dan teknis pemasangan grounding.

"Itu ada rumusnya, tapi nanti totalnya itu kalau misalkan kita enggak pakai, charger-nya sudah disediakan oleh manufacturer, itu mungkin kurang lebih kita bayar tuh antara Rp 1,5 sampai Rp 2 jutaan ya, atau sampai Rp 3 jutaan. Tergantung seperti apa nanti lokasinya, karena di situ tuh kita harus pasang grounding dan lain sebagainya. Itu sangat bergantung pada site," kata Abdan.

Pengendara mengisi di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), Medan, Sumatera Utara. Foto: PLN UID Sumatera Utara/HO/ANTARA

Namun, ia menegaskan bahwa biaya investasi awal tersebut sebanding dengan efisiensi biaya operasional jangka panjang yang didapatkan konsumen.

"Tapi kan overall gini, untuk yang pasang home charging di rumah, itu kan mereka yang punya EV sendiri di rumah gitu ya. Nah, itu biasanya memang kalau dari sisi biaya enggak terlalu bermasalah di awal. Karena pada akhirnya ketika operasional, itu akan jauh lebih murah dibanding kita juga charging di SPKLU," tambahnya.

Untuk mempermudah layanan, seluruh pemantauan dan pengajuan home charging kini juga telah diintegrasikan melalui ekosistem digital EV Digital Services (EVDS) di aplikasi PLN Mobile.

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di rest area Tol Cipali, Jumat (28/3). Foto: Dok. kumparan

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi bahaya korsleting hingga kebakaran saat pengisian daya di rumah, Hanif memastikan bahwa seluruh instalasi resmi dari PLN dipastikan memenuhi standar keamanan yang ketat.

"Setiap kita memasang, itu pasti ada sertifikasinya. Ada namanya SLO, Sertifikat Laik Operasi, di mana di situ safety dan lain sebagainya tuh sudah dipastikan," tegas Abdan.

"Jadi mungkin ketika ada accident, kita mesti lihat apakah dalam proses pemasangan mungkin ada error. Tapi dari yang kami lihat sih, mungkin itu sedikit ya, enggak terlalu banyak. Tapi bukan kita menafikan, itu tetap ada. Mungkin yang perlu dilihat adalah nanti bagaimana kualitas dari pemasangan itu," tuntasnya.