Pembiayaan Mobil Turun, Leasing Astra Tumbuh 11,4 Persen Jadi Rp 30,7 Triliun

Pembiayaan mobil secara umum menghadapi tekanan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi tersebut belum membuat lembaga pembiayaan milik Astra, Astra Credit Companies (ACC) mencatat penurunan kinerja.
Chief Financial Officer ACC Dharmawan Phie mengatakan pembiayaan mobil roda empat di pasar mengalami sedikit penurunan pada periode 2023 hingga 2025. Di sisi lain, pembiayaan ACC masih mencatat pertumbuhan.
Hingga Juli 2026, pembiayaan mobil ACC mencapai sekitar Rp 24 triliun, naik dari Rp 21 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kontribusi ACC terhadap pembiayaan mobil secara nasional juga meningkat menjadi sekitar 17 persen.
“Berdasarkan data APPI, pembiayaan mobil roda empat secara industri mengalami sedikit penurunan dari periode 2023 hingga 2025. Namun, pembiayaan roda empat di ACC tetap stabil dan tumbuh,” kata Dharmawan dalam Astra Media Day di Jakarta, Rabu (23/9).
Pertumbuhan tersebut berlanjut hingga Agustus tahun ini. ACC mencatat pembiayaan baru sebesar Rp 30,7 triliun, meningkat 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 27,6 triliun.
“Di ACC sendiri, hingga bulan Agustus, pembiayaan baru yang tersalurkan mencapai Rp 30,7 triliun, tumbuh 11,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.
Dari sisi unit, pertumbuhan ACC juga berada di kisaran 15 persen hingga bulan yang sama. Sementara pertumbuhan nilai pembiayaan atau amount financed berada di kisaran 11-12 persen.
Dharmawan mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih adanya permintaan terhadap pembiayaan kendaraan roda empat, meskipun daya beli masyarakat menghadapi tantangan.
“Kalau melihat data penjualan kendaraan roda empat serta data pembiayaan internal di ACC, kami masih dapat tumbuh. Sensitivitas daya beli ini memang berdampak pada segmen tertentu, tetapi di ACC sendiri porsi pembiayaannya masih menunjukkan pertumbuhan,” tuturnya.
ACC juga tidak hanya mengandalkan pembiayaan mobil baru. Guna mengantisipasi potensi pelemahan penjualan mobil baru, perusahaan memperbesar peran pembiayaan mobil bekas dan multiguna.
“Untuk mengantisipasi potensi penurunan pada penjualan unit mobil baru, ACC juga mengandalkan pembiayaan mobil bekas dan pembiayaan multiguna,” kata Dharmawan.
Menurut dia, pembiayaan multiguna juga masih mencatat pertumbuhan positif. Dengan kombinasi pembiayaan mobil baru, mobil bekas, dan produk lainnya, ACC masih melihat pertumbuhan bisnis secara keseluruhan.
“Secara keseluruhan, pembiayaan mobil baru, mobil bekas, dan layanan lainnya tetap tumbuh secara sehat,” ujarnya.
Dengan kinerja tersebut, ACC mempertahankan target pembiayaan hingga akhir 2026 di kisaran Rp 42 triliun hingga Rp 43 triliun. Target tersebut tidak direvisi meski kondisi industri pembiayaan masih menghadapi tantangan.
“Hingga bulan Agustus, kami telah menyalurkan sekitar Rp 30,7 triliun. Kami optimistis dan tidak merevisi target,” tutur Dharmawan.
Satu segmen yang masih mengalami tekanan adalah pembiayaan alat berat. Dharmawan mengatakan penurunan tersebut berkaitan dengan kondisi pasar komoditas dan sektor pertambangan, termasuk Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
