Pemerintah Tegaskan Molinas Bukan Merek Tunggal, Terbuka untuk Banyak Pabrikan

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Diskusi Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bisnis Indonesia. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bisnis Indonesia. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Pemerintah melalui Kemenko Perekonomian menepis anggapan bahwa program Motor Listrik Nasional (Molinas) bakal hadir sebagai satu merek tunggal yang menguasai pasar secara sepihak.

Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menegaskan bahwa Molinas dirancang sebagai sebuah platform terbuka bagi berbagai produsen lokal, maupun pabrikan yang memenuhi kriteria standar nasional.

Langkah ini diambil agar pengembangan ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di tanah air bisa bergerak lebih masif, kompetitif, dan tidak bersifat monopolistik.

"Molinas bukan sekadar peluncuran satu jenis kendaraan, melainkan ekosistem seluruh dari industri, baterai, pembiayaan, dan juga penyerapan pasar. Nah, ini menjadi kata kunci untuk kita semua," ujar Atong dalam sebuah pemaparannya di diskusi di Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).

Diskusi Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bisnis Indonesia. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Ia menjelaskan bahwa pemerintah membagi pendekatan pengembangan industri otomotif ini ke dalam empat pilar utama: input, process, regulasi, dan market. Pada aspek input, fokus utama tidak hanya tertuju pada ketersediaan material, tetapi juga mencakup pemberian insentif serta penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten.

Keberhasilan percepatan adopsi motor listrik di dalam negeri dinilainya memerlukan keterlibatan dari banyak pihak secara terintegrasi.

Ekosistem yang dimaksud mencakup rantai pasok industri manufaktur, penyedia komponen, industri baterai, penyedia stasiun pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (battery swapping), lembaga pembiayaan, hingga jaringan distribusi layanan purna jual.

Atong mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 10 mitra industri yang masuk dalam radar pengembangan dan disiapkan untuk memperkuat jaringan produksi Molinas.

Motor listrik nasional Cakra NX1. Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Pemerintah juga mematok target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40 persen pada tahap awal, sebelum ditingkatkan secara bertahap menjadi 60 persen pada periode 2028-2029.

"Ini pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bahwa 40 persen target TKDN-nya. Nanti tahun 2028-2029 itu harapannya 60 persen. Ini kata kuncinya. Apakah hanya sekadar perakitan? Tidak. Perakitan nanti kan ada juga. Nah, justru dengan mengunci TKDN ini harapannya nilai manfaat dari motor listrik nasional itu benar-benar ada," tegas Atong.

Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan Ekosistem Motor Listrik Nasional (MOLINAS) di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Atong menambahkan bahwa penguncian angka TKDN ini sangat krusial agar keberadaan Molinas benar-benar memberikan dampak ekonomi nyata di dalam negeri dan tidak hanya berfokus pada aktivitas perakitan (assembling) semata.

Pemerintah ingin memastikan adanya nilai tambah yang tertinggal di industri lokal, utamanya pada sektor baterai dan komponen inti.