Pengamat: Impor Mobil Listrik Harus Konsisten dengan Target Ekosistem EV

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktivitas produksi mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) GAC AION V di fasilitas perakitan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) milik PT National Assemblers (Indomobil Group) di Purwakarta, Jabar, Selasa (10/6/2025). Foto: Indomobil Group
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas produksi mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) GAC AION V di fasilitas perakitan PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) milik PT National Assemblers (Indomobil Group) di Purwakarta, Jabar, Selasa (10/6/2025). Foto: Indomobil Group

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, tanpa realisasi produksi lokal, kebijakan impor mobil listrik berisiko tidak memberi dorongan signifikan bagi perekonomian nasional.

”Ini pertaruhan besar yang sedang dihadapi industri otomotif Indonesia saat ini. Jika peserta program insentif BEV Gagal merealisasikan komitmen produksi lokalnya tahun depan, ekonomi makro kita tetap tidak naik juga tahun depan,” kata Yannes kepada kumparan, Jumat (5/9/2025).

kumparan post embed

Ia menambahkan, derasnya arus mobil listrik impor juga bisa memicu gejolak di industri manufaktur yang sudah lama beroperasi di dalam negeri.

“Konsekuensinya bisa sangat merusak dan berisiko menimbulkan krisis struktural bagi ekosistem industri manufaktur lokal yang sudah ada,” sambung Yannes.

kumparan post embed

Lebih lanjut, Yannes menjelaskan bahwa kebijakan impor mobil listrik dari pemerintah sebenarnya merupakan strategi percepatan realisasi ekosistem EV di Indonesia. Namun, implementasinya harus konsisten agar sejalan dengan target yang ditetapkan.

“Lonjakan impor BEV CBU merupakan bagian dari strategi industrialisasi dua tahap yang dijalankan pemerintah untuk mempercepat pengembangan ekosistem EV nasional,” terangnya.

kumparan post embed

Menurutnya, tahap pertama berupa pemberian insentif ditujukan untuk menarik minat produsen otomotif asing agar berinvestasi di Indonesia. Setelah itu, masuk ke tahap kedua yaitu menjalankan produksi manufaktur secara lokal, sesuai komitmen awal.

Pada periode Januari–Juli 2025, aktivitas impor mobil listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV) melonjak lebih dari 70 persen, sementara produksi dalam negeri justru menurun drastis.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), impor BEV utuh selama tujuh bulan pertama 2025 mencapai 34.509 unit, atau naik 70,45 persen dibanding total impor sepanjang 2024 yang hanya 20.246 unit.