Pengamat: Pemotor Terobos Ring 1 Bersikap 'Ugal-ugalan', Pantaskah Ditendang?

kumparanOTOverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Pasmpapres bersama anggota Polri berjaga di kediaman Ma'ruf Amin di jalan Situbondo, Jakarta.
 Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Pasmpapres bersama anggota Polri berjaga di kediaman Ma'ruf Amin di jalan Situbondo, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Viral potongan video sekelompok pemotor menunggangi motor sport fairing berkendara di Jalan Veteran III, belakang Istana Kepresidenan, diadang dan ditendang petugas Paspampres pada Minggu (21/2).

Usut punya usut tindakan pemotor dinilai tidak beretika, menerobos kawasan Sekretariat Negara maupun Kantor Wakil Presiden, dengan laju cepat sampai raungan knalpotnya makin bising, sehingga memaksa petugas memberikan tindakan tegas.

embed from external kumparan

Salah satu pemotor sempat kena tendangan petugas yang membuatnya jatuh ke trotoar dan mengenai pesepeda yang melintas. Pemotor lainnya ada yang berhasil menghindar dan memutar balik menjauhi tempat kejadian.

Menanggapi hal ini, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan petugas sudah memberikan tindakan yang sesuai prosedur.

"Bahwasanya knalpot berisik, kebut-kebutan itu contoh lemahnya empati pengguna jalan. Mengerucut kasus menerobos area ring 1, itu di negara lain sudah ditembak karena ada penetrasi, bagus hanya ditendang," ujarnya saat dihubungi kumparan, Sabtu (27/2) malam.

Ilustrasi berkendara motor Foto: christels

"Sudah diadang tidak mau berhenti, ini lari, kabur, kan kelihatan sikap ugal-ugalan apalagi putar balik ke arah berlawanan yang tentunya membahayakan pengguna jalan lain," tambahnya.

Menurutnya kejadian tersebut bisa dihindari apabila pemotor mau berhenti dan mengakui kesalahan. "Paling disuruh tunduk, tiarap, karena itu ring 1 wilayah vital negara. Siapa saja bisa ditembak apabila tidak berotorisasi masuk situ," imbuhnya.

Suasana jalan Veteran samping Istana Negara yang di sterilkan. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Namun demikian ada dua hal penting yang bisa dijadikan pembelajaran. Pertama kata Jusri, supaya tidak terulang kejadian serupa, setiap pengguna jalan wajib menumbuhkan rasa empati.

Kemudian, berada di ruang publik seperti jalan raya harus menaati norma tak tertulis dan aturan yang berlaku, sehingga bisa meminimalisir adanya konflik horizontal. Ditambah, setiap pengendara baik pemula atau berpengalaman sekalipun, juga harus berwawasan luas.

"Caranya dengan pendalaman pengetahuan akan keselamatan bersama, punya komitmen tinggi akan ketertiban, kelancaran, dan kenyamanan berlalu lintas," lanjutnya.

Astra Honda Motor Safety Riding and Training Center, Deltamas, Cikarang, Jawa Barat. Foto: AHM

Kedua, bagi aparat, petugas berwenang, maupun lembaga otoritas terkait, seyogyanya memberikan sosialisasi kepada masyarakat, agar lebih awas dan mengetahui area yang akan dilewati merupakan objek vital atau dalam kondisi pengamanan objek vital, sehingga bisa disikapi dengan bijak.

Minimal dengan memasang rambu peringatan yang lokasinya mudah terbaca di berbagai persimpangan jalan area dengan pengamanan ekstra.

Anggota Pasmpapres bersama anggota Polri berjaga di kediaman Ma'ruf Amin di jalan Situbondo, Jakarta. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bila tidak ada rambu papar Jusri, atur rekayasa lalu lintas bukan sekadar penempatan barikade. Tempatkan petugas supaya memastikan keamanan perimeter area yang dijaga, sehingga tidak ada penetrasi dari masyarakat yang tanpa sadar menerobos area steril.

"Ini bisa menjadi titik balik bagi masyarakat juga pemerintah, khususnya petugas berwenang maupun kepolisian memberikan pemahaman dan sosialisasi yang berisikan bahwa Anda memasuki wilayah dengan penjagaan ketat," tuturnya.

embed from external kumparan