Pengembangan ADAS di Indonesia Tak Mudah, Bosch Ungkap Faktor Penentunya

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aktifkan fitur cruise control Wuling Almaz. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparanOTO
zoom-in-whitePerbesar
Aktifkan fitur cruise control Wuling Almaz. Foto: Ghulam Muhammad Nayazri / kumparanOTO

Fitur keselamatan aktif atau disebut Advanced Driver Assistance System (ADAS) mulai marak digunakan di berbagai model. Bahkan, sudah menjamah produk-produk yang boleh dibilang dijual dengan harga terjangkau.

Senior Sales Manager Power Solutions Bosch Indonesia, Reynold Rumambi mengatakan, proses merancang sistem ADAS tak bisa sembarangan. Sebab, harus melakukan riset dan pengembangan untuk menyesuaikan dengan karakteristik jalanan di negara yang dituju.

”Secara reguler, penyedia teknologi tentunya harus mengerti masing-masing karakter pasar. Di Indonesia atau di negara-negara Asia yang cukup crowded, tentunya menjadi satu pertimbangan dalam menentukan teknologi ADAS,” kata Reynold saat ditemui di Tangerang belum lama ini.

Komponen sistem Advanced Driver Assistance System (ADAS) di Mobility Live Indonesia 2025, Kamis (6/11/2025). Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Reynold menambahkan, sistem teknologi ADAS dari Bosch sudah melalui proses yang komprehensif untuk menciptakan teknologi ADAS adaptif yang presisi. Sehingga, bisa dipastikan teknologi dan servisnya sudah aman.

”Kami sebagai penyedia teknologi untuk transportasi, tentunya harus benar-benar memastikan teknologi dan servisnya itu aman. Ini nggak main-main kalau ADAS,” imbuhnya.

Adapun kondisi jalanan di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda. Marka jalan cenderung lebih jelas di ruas jalan tol, sementara rute perkotaan kerap kali dipenuhi kemacetan serta wira-wiri pemotor.

Beda lagi dengan kondisi jalur di daerah atau jalur lintas provinsi. Tak jarang ditemui kelokan tajam, permukaan berlubang, hingga absennya marka jalan.

Sejumlah kendaraan terjebak macet saat jam pulang kerja di kawasan Gatot Subroto pada Jumat (24/10/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

”Pada dasarnya (jalan di Indonesia) sudah cukup baik. Walaupun memang di kota-kota besar mungkin sangat macet, dan keadaan lalu lintasnya masih cukup crowded. Ini memang jadi tantangan,” jelas Reynold.

Selain mengembangkan ADAS, Bosch turut menghadirkan ragam teknologi menyesuaikan kebutuhan mobilitas modern. Seperti eAxle yang mengintegrasikan motor penggerak, sistem elektronik, dan transmisi menjadi satu komponen.

Ada pula Battery in Cloud sebagai komputasi yang bisa membaca kondisi baterai secara real time. Sehingga, pengguna mobil listrik dapat memantau jika ada kerusakan atau malfungsi pada baterai.

Bosch juga menyediakan RideCare yang berguna bagi perusahaan fleet atau rental mobil. Sebab, pemilik mobil bisa selalu mengawasi unit yang sedang beroperasi, disertai riwayat perjalanan dan kejadian.