Penjualan Mobil 2025 Terancam Anjlok, Terendah dalam 5 Tahun

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Booth Honda di pameran otomotif GIIAS 2024. Foto: HPM
zoom-in-whitePerbesar
Booth Honda di pameran otomotif GIIAS 2024. Foto: HPM

Penjualan mobil dan kendaraan empat roda lebih selama 2025 berjalan memiliki rapor merah tersendiri. Tahun ini bahkan diprediksi jadi yang paling sedikit sejak 5 tahun terakhir melihat catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto memastikan penjualan kendaraan roda empat atau lebih tahun ini tak sampai 800 ribu unit. "Proyeksi penjualan tahun 2025 sudah direvisi menjadi 780.000 unit," urainya dikonfirmasi kepada kumparan, Rabu (3/12).

Padahal, asosiasi sebelumnya mantap menentukan target 900 ribu unit untuk tahun ini. Jongkie menyebut dasar revisi proyeksi capaian tersebut karena melihat performa penjualan Januari hingga Oktober kemarin lebih rendah 10 persen dibanding 2024.

Kilas balik pada tahun 2020 yang sempat dihantam pandemi Covid-19, membuat angka penjualan anjlok drastis hanya 532 ribu unit alias hampir setengahnya dibanding capaian tahun 2019 yang lebih dari satu juta unit.

Mobil GWM Tank 300 di pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2024 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (18/7). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Kemudian tahun 2021 penjualan memang terlihat meningkat menjadi 887.202 unit, namun belum sampai pada level satu juta unit. Mulai tahun tersebut muncul program Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP).

Setelahnya, penyerapan kendaraan baru di Indonesia seperti menemui titik yang cerah. Pada 2022 perolehannya 1.013.582 unit dan tahun 2023 menjadi 1.005.802 unit, namun 2024 justru kembali melandai dengan catatan 865.723 unit.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu saat ini pasar otomotif Indonesia berada di tengah tantangan berat sepanjang tahun 2025. Utamanya dilandasi penurunan daya beli masyarakat.

“Kalau secara umum, pasar otomotif nasional mengalami tekanan berat sepanjang tahun 2025 ini akibat pelemahan daya beli masyarakat, akibat kondisi ekonomi yang menantang menjadi faktor utama yang menekan penjualan barang-barang berharga mahal seperti mobil,” ujar Yannes kepada kumparan.