Peugeot Lawas Tak Lekang Zaman, Peran Komunitas Jadi Andalan

Berbagai Peugeot lawas masih terlihat melintas di jalanan Indonesia sampai sekarang. Mobil tersebut rata-rata sudah berumur lebih dari 20 tahun dengan onderdil yang kian sulit dicari. Namun keberadaan komunitas menjadi salah satu penopang yang membuat para pemilik tetap merawat dan mempertahankan mobil tersebut.
Kamil, pemilik bengkel spesialis Peugeot Kamil Motor, sudah lebih dari dua dasawarsa menyaksikan mobil-mobil itu keluar masuk bengkel miliknya. Pemilik yang datang kebanyakan wajah lama yang bertahan dengan satu unit selama bertahun-tahun.
“Mungkin karena mobil Eropa, jadi dipakainya enak. Kalau sudah nyoba pasti ngerasain enak. Yang sudah pernah punya Jazz dan punya 206 dia bisa bandingin ternyata lebih enak,” katanya saat ditemui kumparan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Senin (12/10).
Harga beli yang rendah ikut memperpanjang umur pakai mobil tersebut. Kamil bilang, Peugeot lawas beredar di kisaran Rp 20-50 jutaan, angka yang membuat pemilik lebih memilih membenahi dibanding melepas.
Keberadaan komunitas jadi penopang berikutnya yang membuat mobil itu bertahan. Ia menuturkan, wadah besar bernama Forum Komunitas Pegueot Indonesia (FKPI) menaungi penggemar lintas tipe.
“Peugeot komunitasnya besar banget dan ramai, apalagi kalau sudah ngumpul. Kita tuh kayak diwadahin sama FKPI. Nanti ada lagi komunitas kecil-kecil yang esuai dengan tipenya," ucap Kamil.
Kelompok yang lebih kecil terbentuk mengikuti model masing-masing. Pemilik 206, 306, 405, serta 406 punya grup tersendiri, kelompok 306 jadi salah satu yang paling ramai berkat jumlah unit yang banyak beredar.
Pemilik Peugeot keluaran lebih tua justru punya ikatan yang lebih kuat. Kamil mengatakan, pengguna model 504 dan 505 bermesin karburator lansiran 1970-an sampai 1980-an tetap rajin berkumpul sampai sekarang.
Perkumpulan tersebut kini merambat ke anak muda lewat wadah bernama Peugeot Kampus. Anggotanya berisi mahasiswa dan pekerja yang baru meniti karier dengan mobil yang berbeda-beda tipe di setiap pertemuan.
“Kalau mereka gabung ke komunitas yang sudah sepuh kan malu, tidak bebas. Mereka kan beda kesukaan. Nah mereka bikin komunitas baru,” tutur Kamil.
Anak Kamil sendiri ikut bergabung di kelompok tersebut semasa kuliah. Pertemuan umumnya rutin dilakukan setiap hari Sabtu malam dengan berbagai aktivitas positif, seperti diskusi tentang pengalaman menggunakan masing-masing model Peugeot yang berbeda.
Di sisi lain, Kamil mengungkapkan sebagian anggota komunitas 306 bahkan membawa mobil itu ke arena balap. Mesin bawaan ditukar dengan milik 406 yang punya blok lebih tangguh, sementara bodi tetap mempertahankan bentuk asli.
“Bodinya 306 karena dia lebih kompak, kecil, tidak terlalu gede. Itu bentuknya sedan, jadi buat balap dia bagus. Bengkel-bengkel yang suka bikin mobil kencang banyak pakai itu, buat drag race biasanya," lanjut Kamil.
