Prediksi Pasar Otomotif Indonesia 2 Juta Unit Meleset, Perlu Relaksasi Pajak
·waktu baca 2 menit

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengakui bahwa pajak menjadi salah satu ganjalan untuk mendorong pasar otomotif nasional.
“Kita kan selalu membandingkan dengan Thailand, tuh. Tapi pernah enggak, kita membandingkan dengan pajaknya? Pakai di Thailand itu bisa dibilang separuh dari yang ada di Indonesia. Sehingga market kita juga tertahan, pajak kita itu ada termasuk PPnBM, kemudian biaya balik nama, PPn, ya,” papar Bob saat berbincang dengan sejumlah awak media di Karawang Plant 2, Jawa Barat, Senin (8/7).
Ia mengambil contoh saat pandemi COVID-19 di mana pemerintah mengeluarkan PPnBM DPT yang langsung merangsang market.
“Padahal bea balik nama masih ada, artinya sebenarnya kalau dibanding Thailand, market kita seperti itu. Pada 2016 atau 2017 diproyeksi market otomotif kita capai 2 juta unit, sekarang (faktanya) 1,1 juta unit,” katanya.
Berkaca dari program PPnBM DPT direalisasi, volume penjualan mobil naik namun pajak yang disetor ke negara pun tumbuh.
“Jadi sebenarnya untuk ekonomi dampaknya positif, cuma memang dari segi kebijakan publik kelihatan enggak populer karena seolah-olah memberi insentif untuk orang kaya. Itu mungkin jadi kendala di pemerintah juga,” paparnya.
Bob menilai, seluruh pihak harus duduk bersama untuk mempelajari faktor-faktor yang menjadi ganjalan dalam pengembangan pasar.
“Secara tax, Singapura rata-rata 17 persen, di Indonesia 22 persen. Di satu sisi kita harus ada pajak untuk income negara yang kemudian disalurkan ke masyarakat. Tapi di sisi lain, kita juga harus melihat tax yang tepat pada level berapa bisa mengoptimalkan income negara tapi ekonomi juga berkembang,” jelasnya.
Sementara itu Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi optimistis penjualan mobil mampu menyentuh angka 1.075.000 unit sampai dengan akhir tahun 2023.
Menurut Organisation Internationale des Constructeurs d'Automobiles atau OICA, Indonesia menjadi negara ke-11 dengan jumlah produksi mobil terbanyak di dunia. Nangoi menargetkan, Indonesia bisa masuk 10 besar negara produsen mobil terbanyak.
Salah satu upaya yang didorong adalah perluasan pasar ekspor untuk memaksimalkan kapasitas produksi dalam negeri yang mencapai 2,4 juta unit per tahun. "Ekspor kita tahun lalu sudah 470 ribu untuk CBU. Diharapkan tahun ini bisa menginjak angka 500 ribu. Dan pada 2025-2026, akan melonjak menjadi satu juta kendaraan," kata Nangoi.
Adapun ekspor CBU, masih mengacu data Gaikindo mencapai 248.004 unit sepanjang Januari-Juni 2023, yang mana 56,2 persen di antaranya merupakan merek Toyota.
