Punya Suzuki Fronx Hybrid, Bagaimana Perawatannya?
ยทwaktu baca 3 menit

Suzuki Fronx menambah jajaran mobil hybrid dengan teknologi SHVS (Smart Hybrid Vehicle by Suzuki). Hibrida yang diusung merupakan hybrid ringan (mild) dengan benefit power assist ketika melakukan akselerasi.
Teknologi tersebut mencakup tiga komponen utama: mesin pembakaran internal K15C, Integrated Starter Generator (ISG), dan baterai lithium-ion 12 Volt 10 Ah di bawah kursi kiri depan untuk menyimpan energi listrik dari proses regenerative braking saat deselerasi. Komponen baterai ini beda dengan baterai aki.
Lebih lanjut ISG sebagai generator listrik kecil bisa dibilang 'jantung tambahan yang menggantikan motor starter dan alternator tradisional. ISG yang mendapat energi dari baterai bekerja memberikan power assist ke mesin selama beberapa detik.
Secara garis besar, mild hybrid pada Suzuki Fronx serupa dengan Ertiga, XL7, maupun Grand Vitara. ISG akan menambah putaran ke mesin bukan ke roda. Sebab tidak tersambung ke sistem penggerak, sehingga tak ada feeling akselerasi instan seperti mobil listrik murni (EV mode).
"ISG itu berfungsi salah satunya acceleration assist, sehingga saat akselerasi akan lebih responsif," ungkap Direktur Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) Harold Donnel saat ditemui belum lama ini.
Konsep awalnya adalah meringankan kerja mesin ketika memulai bergerak dari diam, atau ketika menambah tenaga saat cruising. Sebab dalam kondisi ini, beban kerja mesin paling berat. Singkatnya konsumsi bahan bakar jadi lebih efisien ketimbang mesin pembakaran internal biasa, pada output yang sama.
Hasilnya konsumsi bahan bakar bisa tereduksi ketimbang mesin yang sama tanpa teknologi tersebut.
Beberapa hal yang mengaktifkan ISG bekerja adalah laju kendaraan sekitar 3.900 rpm atau kurang. Kemudian harus memenuhi kondisi pedal kopling tidak diinjak, pedal gas tidak diinjak berlebihan, baterai aki maupun lithium ion terisi penuh serta suhu dalam kondisi normal.
Namun supaya lebih efisien bahan bakar dan benefit pengurangan karbon tercapai, pabrikan juga membenamkan teknologi engine auto-start stop.
Fitur engine auto-start stop akan bekerja apabila daya baterai terisi cukup untuk menghidupkan sistem kelistrikan. Bila tak cukup atau dayanya berkurang, maka jangan kaget apabila mesin akan hidup secara mandiri, supaya suplai daya dikembalikan lagi dari mesin.
Perawatan Suzuki Fronx Hybrid
Fakta menarik, teknologi tersebut nyatanya tidak membuat biaya perawatan membengkak. Assistant to Departement Head Service PT SIS Hariadi bilang tak ada perbedaan signifikan ketimbang varian yang tidak disematkan SHVS.
"Biaya tetap tergolong terjangkau serta tidak berbeda dari model konvensional, sebagai contoh total biaya perawatan Ertiga atau XL7 Hybrid selama lima tahun berkisar Rp 6 jutaan," terangnya.
Pun dengan servis berkala sesuai periode, tinggal mengikuti anjuran buku petunjuk setiap 10 ribu kilometer atau enam bulan sekali. Pada periode tertentu diwajibkan pemeriksaan komponen drive belt ISG, serta penggantiannya dilakukan 40 ribu kilometer sekali, demikian bila mengutip buku pedoman kepemilikan.
Namun perlu diingat, untuk komponen baterai lithium ion yang notabene bebas perawatan (maintenance free), sejatinya bisa mengalami pengosongan daya secara bertahap layaknya baterai aki. Maka guna mencegah hal itu terjadi, baterai harus diisi ulang dengan cara mengemudi terus-menerus selama minimal 30 menit setiap bulan.
Sebab saat baterai lithium ion atau jenis baterai bertegangan tinggi ini energinya sepenuhnya habis, maka baterai tidak dapat diisi ulang, dengan demikian harus dilakukan penggantian baru.
