Rahasia Mesin Turbo Mitsubishi Destinator Bisa Efisien
27 November 2025 16:30 WIB
·
waktu baca 5 menit
Rahasia Mesin Turbo Mitsubishi Destinator Bisa Efisien
Mitsubishi Destinator usung mesin turbo buas tetapi efisien, ini rahasianya. #kumparanOTOkumparanOTO

Punya dimensi gambot, mesin turbocharged, dan performa buas bukan menjadi alasan Mitsubishi Destinator tak mampu memberikan konsumsi bahan bakar minyak atau BBM yang efisien.
Itu terbukti dari hasil pengetesan kami dalam rangkaian perjalanan Eco Journey dari Jakarta ke Yogyakarta. Melintasi berbagai rute jalan, mulai dari ruas perkotaan, melintasi Tol Trans Jawa, hingga mendaki teras Gunung Merapi.
Oh iya, perjalanan ini sekaligus melakoni Single Tank Challenge. Kami akan menghabiskan tangki BBM Destinator yang memiliki kapasitas 45 liter.
Tapi, sebelum ke perjalanan, coba kita ulik dulu dapur mekanisnya. Ia menggendong mesin ‘mungil’ berkode 4B40 dengan kapasitas 1.500 cc saja. Terdengar kecil? Memang. Namun, ada keong turbocharger yang siap memberikan induksi udara tambahan ke ruang bakar.
Hasilnya tidak bercanda, di atas kertas jantung pacu tersebut mampu memproduksi tenaga hingga 160 dk di 5.000 rpm dan torsi puncak 250 Nm di 2.500-4.000 rpm. Nah, di sini rahasianya.
Jaga putaran mesin tetap rendah
Mesin Destinator bisa memberikan torsi maksimal di putaran mesin yang pas, sehingga pengemudi tidak perlu menginjak pedal akselerator terlalu dalam ketika melaju di kecepatan sedang, hingga berpotensi menyebabkan konsumsi BBM memburuk. Bisa dibilang, akselerasi yang effortless jadi kunci hemat Mitsubishi Destinator.
Lanjut bicara skenario kapan turbonya aktif. Berdasarkan rasa berkendara, jambakan dari induksi turbo mulai terasa ketika penunjuk putaran mesin melewati 2.500 rpm. Sebelum mencapai rentang tersebut, mesin bekerja tanpa keong turbo, sehingga terasa seperti mesin bensin 1.500 cc naturally aspirated. Tetap responsif, tapi tidak membutuhkan tekanan udara dan bensin lebih layaknya saat turbo beroperasi.
Putaran mesin rendah digunakan ketika kondisi lalu lintas padat atau stop n go. Melaju perlahan tanpa akselerasi mendadak artinya tidak memerlukan tenaga ekstra. Sesuai dengan racikan mesin Mitsubishi Destinator yang dirancang agar boost turbo masuk saat kecepatan sedang di atas 2.500 rpm. Hasilnya? Kehematan BBM di rute dalam kota bisa tetap terjaga.
Konsumsi BBM Mitsubishi Destinator
Guna mendapatkan data aktual, kami melajukan Mitsubishi Destinator di jalanan perkotaan. Meliputi kondisi macet total, lalu lintas padat merayap, hingga wara-wiri lancar dengan kecepatan 40-50 km/jam.
Berdasarkan Multi Information Display (MID) di panel instrumen 8 inci-nya, Destinator mencatatkan 13,5 km/liter di rute dalam kota. Hasil tersebut didapat setelah berkendara 136 kilometer.
Lanjut ke konsumsi BBM rute tol dengan kecepatan rata-rata yang lebih tinggi. Perjalanan Eco Journey kali ini, Mitsubishi Destinator kita gas dari kantor kumparan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan ke Yogyakarta.
Oke, awal perjalanan kita mulai dengan isi bensin sampai bibir lubang tangki menggunakan Pertamina Pertamax Turbo Ron 98, sesuai anjuran Mitsubishi di sekitar kantor kumparan. Poin ini sekaligus menjadi titik mereset trip meter. Setelahnya, langsung mengarahkan mobil ke jalan tol hingga pemberhentian pertama di Rest Area KM 130 A Tol Cipali.
Sampai di titik tersebut, MID menunjukkan angka 16,6 km/liter, impresif! Lagi-lagi, kuncinya berasal dari hasil pengembangan Mitsubishi terhadap dapur penggerak yang digunakan. Saat melaju di kecepatan 90-100 km/jam, putaran mesin tidak bergerak ke atas 2.000 rpm, bahkan cenderung stabil di bawah 2.000 rpm.
Artinya, turbocharger tidak aktif saat cruising konstan. Ini terjadi berkat transmisi yang diadopsi Destinator. Yup, Continuously Variable Transmission alias CVT! Jenis transmisi otomatik yang dikenal dengan karakter kehalusan berkendara serta menjaga rpm tetap rendah kala melaju konstan di kecepatan tinggi.
Tembus 600 kilometer sekali isi bensin
Setelah Rest Area KM 130 A, perjalanan berlanjut menuju Yogyakarta. Nah, memasuki KM 482, level bensin tersisa 2 bar dan ada peringatan ‘Refuel’ di MID. Sisa jarak tempuh pun tak lagi ditampilkan. Saat itu total perjalanan berdasarkan MID sudah menunjukkan 497 kilometer.
Dengan kondisi tersebut, kami masih mampu melaju hingga Hotel Por Aqui Stay & Dine di Jalan Prawirotaman, Yogyakarta. Total trip yang ditempuh hingga sampai di penginapan mencapai 566,7 kilometer. Menariknya, setiba kami di sana, mobil masih beroperasi normal tanpa ada gejala kehabisan bensin. Sehingga proses Single Tank Challenge berlanjut ke hari berikutnya.
Perjalanan dimulai pagi hari, tak ada bar bensin dan sisa jarak tempuh, Destinator masih bisa diajak berkelana mendaki teras Gunung Merapi. Tepatnya daerah Kaliurang, Yogyakarta. Kami masih bisa berkendara normal dengan Destinator, AC pun tetap berfungsi optimal disertai respons mesin yang senantiasa cekatan.
Namun, kontur jalan menanjak bikin akselerasi terus ditambah, hingga akhirnya…
Ketika tidak lama lagi tiba di Ekowisata Kalitalang, mesin mendadak mati dikala kami tengah berhenti di tengah tanjakan. Ketika coba dinyalakan, hanya ada suara motor starter, tapi mesin tak lagi merespons untuk menyala. Ya, kami kehabisan bahan bakar, menandakan Single Tank Challenge selesai.
Berdasarkan MID, kapasitas tangki penuh Mitsubishi Destinator sebanyak 45 liter bisa menjalankan mobil hingga 604,5 kilometer. Cukup untuk melakukan perjalanan lintas provinsi seperti Eco Journey kali ini.
Agar bisa melanjutkan perjalanan, cadangan bahan bakar 5 liter yang kami bawa dimasukkan ke dalam tangki. Kemudian lanjut menyusuri rute menuju Ekowisata Kalitalang, menikmati keindahan alam Gunung Merapi.
Setelah puas eksplorasi, di perjalanan pulang kembali mengisi bahan bakar hingga penuh. Sekitar 40,48 liter Pertamax Turbo dituang ke dalam tangki, menghabiskan sekitar Rp 530 ribu dengan harga per liter Rp13.100.
Saatnya bermain matematika sedikit. Jarak tempuh total 604,5 kilometer dengan bensin 45 liter. Artinya, konsumsi bensin Mitsubishi Destinator dengan metode full to full hingga bensin habis mencatatkan angka 13,4 km/liter. Deviasinya sangat tipis, selisih 0,1 km/liter dengan catatan MID. Alhasil, angka di MID bisa menjadi acuan praktis untuk mengetahui konsumsi BBM Destinator.
