Repeat Order dan Fleet Dongkrak Penjualan Daihatsu di 2026

Penjualan Daihatsu di Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan tren positif. Capaian ini diraih di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang belum sepenuhnya pulih.
Jenama Jepang tersebut juga mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama di pasar otomotif nasional. Daihatsu konsisten berada di peringkat kedua penjualan mobil terlaris di Indonesia.
Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengatakan secara umum pasar otomotif mengalami pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi baik dari sisi wholesales maupun retail.
"Angkanya itu meningkat 9-10 persen. Jadi sebenarnya secara market itu meningkat, baik wholesales maupun retail, meningkat dua-duanya. Artinya ada indikasi dong, ada pertumbuhan positif," ujar Agung saat ditemui di acara Daihatsu di Depok, Minggu (21/6/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan pasar ditopang oleh segmen kendaraan medium serta mobil komersial. Baik kendaraan pick up maupun semi komersial disebut mengalami peningkatan permintaan.
Di sisi lain, segmen LCGC justru mengalami penurunan kontribusi. Meski begitu, Daihatsu mengeklaim volumenya tetap stabil, khususnya karena basis konsumen di luar kota.
"Tapi teman-teman harus lihat, kalau buat Toyota dan Daihatsu, Alhamdulillah itu secara volume tidak menurun ya di kelas LCGC. Karena mungkin, kita kalau di Daihatsu ada di luar kota ya (segmen konsumennya)," sambung Agung.
Dari sisi penjualan, Daihatsu mencatat hasil yang cukup signifikan. Pada Mei 2026, penjualan retail mencapai 12.531 unit atau tumbuh 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan itu, pangsa pasar Daihatsu juga mengalami peningkatan. Market share tercatat naik menjadi 17,4 persen.
Tak hanya penjualan, performa produksi juga menunjukkan tren serupa. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Daihatsu Indonesia memproduksi 169.000 unit mobil, meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Agung menyebut, pertumbuhan ini tidak lepas dari perubahan pola pembelian konsumen. Selain pembeli mobil pertama, kontribusi pembeli mobil kedua juga meningkat.
"Nah repeat order itu ada dua, yang fleet itu bisa juga kita saat ini dibantu oleh fleet gitu ya. Jadi fleet-nya saat ini juga membantu untuk proses replacement dan lain-lain,” ujar dia.
“Kontribusinya mungkin, 65 persen masih first car buyer, 35 persennya second buyer. Kalau fleet kurang lebih secara total penjualan, hasilnya meningkat, tadinya 15 persen, sekarang 19 persen," lanjutnya.
Menurutnya, peningkatan pembelian dari segmen fleet atau armada juga menjadi faktor penting. Kebutuhan kendaraan operasional mendorong permintaan, terutama untuk penggantian unit lama.
