Rupiah Anjlok, Ekspor Motor Produksi Indonesia Justru Bisa Naik
ยทwaktu baca 2 menit

Menurut Ketua Bidang Komersil Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI) Sigit Kumala, melemahnya nilai mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat mempengaruhi kinerja ekspor motor baru.
"Iya, apalagi nanti karena nilai Rupiah melemah, ekspornya bakalan meningkat ya jangan heran. Dianggap murah produk kita," kata Sigit dihubungi kumparan, Senin (29/4).
Bicara performa pengiriman motor baru ke luar negeri awal tahun ini, trennya selalu mengalami kenaikan. Januari totalnya 34.991 unit, kemudian Februari 38.375 unit atau naik 9,6 persen, dan Maret totalnya 43.839 unit alias lebih banyak 14,2 persen dibanding bulan sebelumnya.
Adapun total motor baru yang sudah dikapalkan ke luar negeri sudah mencapai 117.205 unit sepanjang Januari-Maret. Namun, hasil ini sebenarnya lebih sedikit dibanding periode yang sama (year-on-year) tahun 2023 dengan total 121.858 unit atau lebih rendah 3,9 persen.
Ekspor 2024
Januari 34.991 unit
Februari 38.375 unit
Maret 43.839 unit
Total 117.205 unit
Ekspor 2023
Januari 39.269 unit
Februari 45.627 unit
Maret 36.962 unit
Total 121.858 unit
Menyoal kategori masih didominasi oleh scooter dengan perolehan 49 persen, underbone 26,12 persen, dan sport sebesar 24,84 persen. Sedikit berbeda dibanding dengan pasar domestik yang mana kategori scooter 90,50 persen, sport 4,77 persen, dan underbone 4,73 persen.
Tetapi, jika melihat figur ekspor motor buatan dalam negeri sejak tahun 2020, sejatinya angkanya terus menurun. Mulai dari 2020 yang disebabkan pandemi Covid-19 dengan total 700.392 unit, pada tahun 2021 jumlah naik 14,7 persen menjadi 803.931 unit.
Namun tahun 2022 jumlah ekspor motor-motor lansiran Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS kembali melandai yakni sebanyak 743.551 unit alias turun 7,5 persen dibanding tahun 2021. Tahun 2023 jumlahnya lebih sedikit lagi yaitu 570.004 unit atau turun 23,3 persen.
***
