Sempat Viral, Kini Penjualan Mobil Listrik Xiaomi Anjlok

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobil listrik pertama Xiaomi SU7 resmi debut di China.  Foto: Xiaomi
zoom-in-whitePerbesar
Mobil listrik pertama Xiaomi SU7 resmi debut di China. Foto: Xiaomi

Pabrikan otomotif jenama China, Xiaomi kini menghadapi tantangan dalam memasarkan mobil listrik mereka, Xiaomi SU7 dan SU7 Ultra. Dalam tiga minggu terakhir penjualannya dilaporkan terus menurun.

Disitat dari Car News China, berdasarkan data dari Asosiasi Dealer Mobil China sejak periode minggu ke-16 hingga ke-19 tahun 2025, penjualan kendaraan tersebut turun drastis dari 7.200 unit menjadi 5.200 unit.

Penurunan signifikan terjadi pada model SU7 standar. penjualannya menurun dari 6.700 unit menjadi 4.700 unit per minggu.

Xiaomi SU7 Foto: Dok. Istimewa

Pendiri Xiaomi, Lei Jun dalam postingannya di media sosial Weibo mengatakan keprihatiannya soal penurunan penjualan tersebut: "periode tersulit sejak perusahaan didirikan."

Media setempat merinci beberapa hal yang membuat bulan madu mobil listrik viral tersebut harus berakhir.

Krisis kepercayaan

Xiaomi SU7 Ultra. Foto: Xiaomi

Saat ini, Xiaomi tengah dihadapkan krisis kepercayaan yang besar. Ada beberapa pemicu yang memantik turunnya keyakinan konsumen terhadap Xiaomi.

Pertama karena kap serat karbon opsional untuk SU7 Ultra, yang dipasarkan dengan harga 42 ribu yuan atau sekitar Rp 95 jutaan. Kap tersebut digadang-gadang punya saluran udara ganda yang berfungsi sebagai sistem pendingin.

Namun, pemilik kendaraan menemukan komponen tersebut tidak memberikan peningkatan kinerja pendinginan seperti yang dijanjikan. Kelebihannya hanya mengurangi bobot sebesar 1,3 kilogram dibandingkan versi standar.

Iklan Xiaomi SU7. Foto: Xiaomi

Selain itu, pembaruan secara perangkat lunak secara nirkabel melalui teknologi OTA (Over The Air), justru membatasi daya maksimum SU7 Ultra dari 1.548 hp menjadi 900 hp. Imbasnya, pengguna harus memenuhi kriteria performa tertentu untuk membuka daya penuh.

Hal ini bertentangan dengan klaim Xiaomi yang sebelumnya memposisikan SU7 Ultra dengan kecepatan tertinggi mencapai 350 km/jam. Hal tersebut juga tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan sebagai mobil empat pintu tercepat di dunia.

Mobil listrik Xiaomi SU7 Ultra usai kecelakaan di China. Foto: Car News China

Pabrikan juga dihadapkan dengan masalah keselamatan pada akhir Maret lalu. Sebuah SU7 Ultra berkelir kuning mengalami kecelakaan fatal saat melaju dengan kecepatan tinggi.

Insiden tersebut menggemparkan China dan mendorong Xiaomi untuk lebih fokus dalam memprioritaskan keselamatan kendaraannya.

Protes dari konsumen hingga jalur hukum

Mobil listrik pertama Xiaomi SU7 resmi debut di China. Foto: Xiaomi

Selain hal-hal teknis di atas, ada lebih dari 30 calon pembeli SU7 Ultra melakukan protes di pusat pengiriman Beijing sambil membawa spanduk, yang menuduh adanya iklan palsu yang ditawarkan Xiaomi.

Selanjutnya ada 300 lebih pemilik SU7 Ultra membentuk kelompok untuk memperjuangkan hak mereka, dengan tuntutan pengembalian uang dan kompensasi hingga tiga kali lipat.

Kecelakaan fatal mobil listrik Xiaomi SU7 yang merenggut 3 korban jiwa di China. Foto: Car News China

Bahkan beberapa pelanggan tak segan untuk menyewa pengacara dan mengajukan gugatan class action.

Lebih lanjut, analis industri mencatat ada lebih dari 50 persen pemilik SU7 Ultra yang menjadi konsumen pertama membeli kendaraan dengan harga di atas 500 ribu yuan atau sekitar Rp 1,1 miliar. Namun, spesifikasi yang ditawarkan pabrikan terbilang berlebihan sehingga membuat konsumen kecewa.