Semua Mobil Bisa Pakai CNG, Asal Instalasi Sesuai Standar

kumparanOTOverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. Komogas
zoom-in-whitePerbesar
Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. Komogas

Rencana pengembangan bahan bakar gas seperti Compressed Natural Gas (CNG) tak hanya menyasar sektor rumah tangga, tetapi juga kembali membuka peluang di dunia otomotif. Teknologi konversi dinilai semakin fleksibel dan bisa diterapkan di berbagai jenis kendaraan.

Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, menyebut pada dasarnya hampir semua mobil bisa dikonversi menggunakan bahan bakar gas. Hal ini karena sistem kit yang tersedia saat ini sudah menyesuaikan dengan teknologi mesin modern.

“Semua mobil bisa karena apa pun bentuk dari sistem mobil itu ada kit-nya,” buka Andy saat dihubungi kumparan, Kamis (7/5/2026).

Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. Komogas

Ia menjelaskan, secara umum terdapat tiga jenis sistem kit yang digunakan dalam konversi CNG. Ketiganya disesuaikan dengan teknologi injeksi bahan bakar pada masing-masing kendaraan.

“Jadi di mobil itu ada tiga jenis kit-nya, yaitu multi-point injector sama direct injection, yang ketiga adalah gabungan multi-point dan direct,” kata Andy.

Sebagai contoh, ia menyebut model seperti Toyota Innova Zenix sudah menggunakan kombinasi dua sistem sekaligus. Teknologi ini disebut bertujuan untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar.

“Contohnya Zenix itu pakai dua sistem multi-point dan direct. Mungkin buat efisiensi,” ucapnya.

Tabung BBG ukuran 12 LPS di bagasi Daihatsu Terios. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Menurutnya, tren ke depan akan mengarah pada penggunaan sistem direct injection. Teknologi ini banyak digunakan pada mobil-mobil modern karena dianggap lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar.

“Mobil-mobil Mazda atau mobil ke depan yang canggih itu lebih pakai yang direct untuk efisiensi atau pengiritan,” jelas Andy.

Sementara itu, sebagian besar mobil yang beredar saat ini masih menggunakan sistem multi-point injection. Sistem ini dinilai paling umum dan relatif mudah dikonversi ke CNG.

“Untuk yang lain-lain itu umumnya pakai multi-point injector. Jadi semuanya bisa,” katanya.

Lubang pengisian BBG yang diletakkan di dalam ruang mesin. Foto: Syahrul Ghiffari/kumparan

Meski begitu, ada hal penting yang harus diperhatikan dalam proses konversi. Andy menegaskan instalasi tidak boleh dilakukan sembarangan oleh pihak yang tidak memiliki kompetensi.

“Yang tidak boleh itu menginstalasi unit yang kita sendiri enggak punya kemampuannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap teknisi atau bengkel yang ingin melakukan pemasangan wajib memiliki sertifikasi resmi. Hal ini untuk memastikan keamanan serta standar kualitas tetap terjaga.

“Kita enggak boleh jadi instalatir kalau belum terverifikasi. Harus ikut pelatihan, ikut standardisasi, baru boleh ikut menginstal kit konversi CNG,” tutupnya.

Dengan aturan tersebut, penggunaan CNG di kendaraan diharapkan bisa berjalan aman dan optimal. Standardisasi instalasi menjadi kunci agar teknologi ini dapat diterima lebih luas oleh masyarakat.